PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS
Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
(Sebuah gagasan bersahaja dari ruang PERENCANAAN DINAS KESEHATAN BONTANG dan ruang redaksi penerbitan MEDIA HUSADA)
2 be ‘correctly grammar’ and ‘speaking fluently’
Bahasa Inggris bisa dipelajari secara otodidak, untuk pengembangan kemampuan berbicara (speaking) dan membaca teks (reading text). Sebenarnya, Kemampuan dasar dalam tataran tatabahasa sudah mencukupi dengan berbekal pelajaran dari sekolah. Bila pelajaran bahasa Inggris di sekolah belum memadai dan tak bisa dikembangkan secara otodidak, maka kursus tentu saja menjadi pilihan selanjutnya. Kursus pada umumnya dilakukan oleh badan pendidikan swasta atau juga bekerja sama dengan pemerintah. Bagaimana bila kursus itu ditata, dibangun dan dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri secara swadaya dan swakelola?
Kursus bahasa Inggris dapat dibangun dengan “berbasis komunitas”, yakni masyarakat itu sendiri yang mengelolanya secara partisipasi terbuka. Kursus berbasis masyarakat dengan partisipasi terbuka, jauh lebih baik daripada kursus gratis yang dikelola oleh suatu lembaga yang terpusat. Kursus gratis semacam itu meminimalkan partisipasi dan tanggung-jawab masyarakat secara langsung, karena peserta kursus hanya menjadi ‘konsumen belaka’ atau ‘pengguna belaka’.
Model kursus berbasis komunitas dengan partisipasi terbuka tersebut, yang akan diuji-cobakan di jajaran Dinas Kesehatan Kota Bontang dengan mengikut-sertakan individu-individu yang bekerja di klinik praktek keluarga, puskesmas, KPAD, jamkesda, SBH (Saka Bakti Husada) dan sebagainya. Kursus semacam ini, memanfaatkan individu-individu yang ‘tahu’ dan ‘paham’ tentang tatabahasa secara baik (correctly grammar) dan bisa berbahasa Inggris (speaking fluently) untuk menjadi pengajar atau tutor. Khusus pada individu-individu yang ‘correctly grammar’ dan ‘speaking fluently’, diselenggarakan forum khusus berbahasa Inggris untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan bidang kesehatan atau masalah-masalah umum lainnya.
Forum khusus ini berupa diskusi, pembicaraan mendalam (deep speaking) atau dialog untuk membuat wacana khusus tentang bidang kesehatan. Alangkah bagusnya jika di Bontang, lahir pemikiran baru di bidang kesehatan, yang bisa diwacanakan dalam versi bahasa Inggris. Pemikiran baru di bidang kesehatan sampai sekarang masih tetap dikuasai pemikir-pemikir barat, meskipun pemikiran itu tak selamanya bisa diadopsi dalam konteks keindonesiaan. Betapa banyak pemikiran baru bidang kesehatan dari barat, yang susah diadopsi karena adanya kesenjangan wawasaan, kelemahan teknis dan juga otak yang letoy memikirkan reformasi bidang kesehatan. Bila forum diskusi berbahasa Inggris ala Dinas Kesehatan Bontang, dapat melahirkan pemikiran baru di bidang kesehatan, maka pastilah bisa merepresentasikan kebutuhan rakyat Indonesia dan bisa diadopsi oleh masyarakat Indonesia, bahkan untuk dunia berkembang pada umumnya. So what next!
Pemikiran kesehatan yang stagnan, What’s up Doc?
Pemikiran tentang Jamkesos/Jamkesda yang menjadi andalan dalam pelayanan kesehatan di Bontan, ternyata tidak lahir dari ‘pemikiran prihatin’ dari intelektual/pemikir Indonesia. Kurangnya ‘pemikiran prihatin’ pada pelayanan kesehatan, mengakibatkan tingkat kesehatan rakyat Indonesia tak menunjukkan peningkatan signifikan di era Orde Baru hingga pemerintahan sekarang. Korupsi di bidang pelayanan kesehatan juga memperparah kondisi ini. Sekarang ini, korupsi bidang kesehatan menempatkan Kaltim dalam peringkat ketiga se-Indonesia. Pelayanan kesehatan ala jamkesos/jamkesda diadopsi dari Barat pada ‘Kapitalisme Kesehatan berwajah Humanis’ sebagaimana yang diterapkan pada ‘Kapitalisme Jalan Ketiga’ (Third Way Capitalism). Belanda, Amerika dan Inggris, menerapkan ‘Kapitalisme Kesehatan berwajah Humanis’ tersebut.
Kapitalisme yang mengambil praktek sosialisme dengan tampilan pelayanan humanistik tersebut, umumnya diterapkan pada bidang kesehatan ataupun bantuan kemanusiaan (humanitarian aid). Mengapa pemikir kesehatan atau kalangan akademis bidang kesehatan atau health worker itu sendiri, tak bisa memikirkan kebutuhan azasi bidang kesehatan itu? Mengapa mereka gagal ‘berpikir global bertindak local’ (think globally act locally) dalam mencari dan menemukan sendiri metode kesehatan yang secara paradoks, ‘berbasis lokal’ dari ‘pikiran lokal’ itu sendiri (think locally act locally). Mengapa ‘naskah akademis’ yang ditawarkan di Dinas Kesehatan Bontang, dalam ‘Sistem Kesehatan Daerah’ (SKD) kelihatan biasa-biasa saja dibandingkan naskah serupa berbahasa Inggris dari negara barat yang bisa diakses secara online? What’s up Doc?
Dengan tingginya anggaran kesehatan di Bontang, maka pemikiran global mengenai kesehatan dengan tindakan lokal yang jitu, seharusnya juga meningkat. Keberhasilan pelayanan kesehatan di Bontang hanyalah ‘tiruan sempurna’ dan ‘mimetik sepenuhnya’ dari ‘Kapitalisme Kesehatan berwajah Humanis’, padahal Indonesia bukanlah negara kapitalis dan bukan juga negara sosialis? Ini paradoks, superparadoks atau hiperparadoks di bidang kesehatan?
English forum 4 health workers force
Bagi pegawai Dinas Kesehatan Kota Bontang, kegiatan ke luar daerah bertajuk studi banding dan kunjungan kerja, merupakan rutinitas mingguan dan bulanan. Studi banding (comparative study) dan kursus singkat (short course) juga biasa dilakukan oleh beberapa orang di jajaran ini. Dalam bulan November tercatat tiga orang yang keluar negeri dengan negara tujuan Australia dan Belanda yakni Adi Permana, SKM (Kepala Bidang Perencanaan), Jamila Suyuthi, SKM dan drg. WH. Agustin, M.Kes (Direktur KPAD Kota Bontang). Kegiatan berskala global tersebut tentu membutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai dalam kriteria correctly speaking and correctly writing, atau minimal ‘could discussing in english’.
Dengan membiasakan berdiskusi dengan membahas topik-topik tertentu secara sistematis dalam bahasa Inggris, maka kegiatan dinas keluar negeri tersebut, akan lebih mudah dalam mengadopsi pemikiran baru yang selama ini belum ada di Indonesia. Sebenarnya, bagi beberapa orang di jajaran Dinas Kesehatan, sejumlah spesialis di Bontang dan puluhan tenaga medis/paramedis, berbahasa Inggris bukan hal yang sulit. Masalahnya, mereka belum membentuk forum berbahasa Inggris, untuk membahas topik-topik terkini bidang kesehatan global, untuk diterjemahkan dalam praktek keindonesiaan. Masalah itu bisa dilumerkan dengan program ‘Community based English course Project’ ini. Pelumeran ini butuh waktu lama, tapi setidaknya itu telah dimulai pada tahap dini.
Bahasa Inggris, bahasa planet bumi
Dalam pemilihan Duta HIV/AIDS yang diselenggarakan KPAD Bontang, terlihat kemampuan para peserta menyampaikan presentase dalam bahasa Inggris. Kemampuan yang mungkin di atas rata-rata para pelajar di Bontang, pada umumnya. Bila hanya sedemikian sedikit, pelajar-pelajar Bontang yang bisa menyampaikan pikiran, memberikan presentase atau berbicara bahasa Inggris di forum terbuka, maka betapa terbatasnya kemampuan mayoritas pelajar Bontang. Para finalis duta HIV/AIDS akan kita ajak untuk menjadi motivator dalam hal pengembangan kemampuan berbahasa Inggris. Mereka diharapkan dapat mempresentasikan wawasan dan informasi terkini yang mereka ketahui tentang HIV/AIDS. Kemampuan mereka secara literatif, semoga dapat memotivasi para pelajar dan para pembelajar lainnya.
Kesadaran betapa pentingnya kemampuan berbahasa Inggris disampaikan Nurintan Sekarsari, pelajar SMP YPK. Ia menyampaikan program yang berkisar pada pengembangan kemampuan berbahasa Inggris. Dalam presentasenya, ia menegaskan yakni bahasa Inggris sebagai bahasa planet bumi, yang membuat seseorang dapat bergaul dengan siapapun di belahan dunia lain, menuntun kepada ilmu pengetahuan tak bertepi, dan sebagai nilai tambah agar seseorang mendapatkan kesempatan lebih luas. Pelajar yang membiarkan rambut panjangnya terurai ke arah gravitasi lantai pendopo walikota Bontang itu, menyampaikan dengan tepat kegunaan berbahasa Inggris. Pernyataanya ini dipujikan oleh seorang pengajar bahasa Inggris dan direktur Mabuhay English Foundation (MEF), Lena Roza, yang waktu itu tampil sebagai salah seorang juri dalam “Pemilihan Duta HIV/AIDS”.
Selain Intan yang mempresentasikan pentingnya kemampuan berbahasa Inggris, terdapat pula Phutrie (Mardhiyah Huurin) yang melakukan presentasenya dalam bahasa Inggris sepenuhnya (full English loaded). Ia mempresentasikan sebuah pengandaian tentang “If I become The HIV Ambassador” dengan sub judul “HIV Attack”. Keberanian personal untuk menyampaikan presentase berbahasa Inggris patut dibanggakan, karena ia satu-satunya yang melakukan hal tersebut, diantara tiga puluh finalis.
SIKNAS ONLINE OR ‘SICKNESS’ ONLINE
Kemampuan bahasa Inggris, sangat perlu untuk memahami berita dan informasi terkini mengenai kesehatan. Informasi tersebut umumnya masih berbahasa Inggris. Situs resmi Departemen Kesehatan RI, seringkali terlambat dalam menerjemahkan informasi-informasi terkini mengenai kesehatan. PUSDATIN DEPKES RI (Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan RI) juga kedodoran mengikuti pergerakan informasi kesehatan terbaru yang sudah terindonesiakan. PUSDATIN sendiri lebih memilih untuk mem-banned (menghalangi) pergerakan informasi itu dengan menutup sejumlah situs-situs bebas, social media dan non-komersil.
Di era Social Media, PUSDATIN DEPKES RI melakukan ‘langkah mundur elektronik’ dan menuju ‘kegelapan sibernetik’, dengan mem-banned semua situs-situs yang berbasis pada Social Media atau media berbasis blog seperti wordpress, blogspot, dan sebagainya. Informasi kesehatan terbaru ada juga yang tertulis pada Social Media, yang bisa ditanggapi secara interaktif, sharing of information, conference dan sebagainya.
Jika lembaga resmi seperti PUSDATIN DEPKES RI, melakukan pembatasan informasi, maka satu-satunya cara menjebol informasi yang tertutupi yakni harus bisa berbahasa Inggris, akrab dengan dunia sibernetik, paling bagus lagi jika aktif dalam Social Media dengan menjadi blogger. Ini masalah terparah yang terjadi pada SIKNAS Online (Sistem Informasi Kesehatan Online). Masalah lainnya yakni fasilitas mahal dengan peralatan (hardware) standar Internasional, tak didukung oleh kehandalan administrator yang bertanggung-jawab penuh pada contain (isi) dan kontunuitas akses. SIKNAS Online, lebih sering offline dari pada online, sehingga lebih pantas disebut sebagai SIKNAS Offline atau secara plesetan disebut ‘SICKNESS Online’ (Penyakitan Online). Peralatan mahal dan biaya akses perbulan yang teramat mahal sama sekali tak sebanding dengan isi, fungsi dan keefektifannya.
‘Taste of language’ (rasa berbahasa) yang menyehatkan
Bahasa Inggris masih menjadi bahasa teratas dalam penyampaian ilmu pengetahuan, termasuk bidang kesehatan. Kelemahan berbahasa Inggris dapat mengurangi akses untuk membaca buku-buku dan terbitan yang umumnya belum bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hal itu diperparah, bila terjadi penerjemahan yang buruk, yang tak sesuai dengan taste of language (rasa berbahasa) dari versi original buku-buku atau terbitan berbahasa Inggris tersebut. Ada sejumlah pemadanan kata yang sulit dilakukan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pemadanan kata memang bisa disiati, dengan menyerap kosakata berbahasa Inggris tersebut ke dalam bahasa Indonesia, tapi bagaimana dengan ‘pemadanan makna’?.
Makna dalam bahasa bahasa Inggris, seringkali sulit dicarikan pemadannya, bila konteks dari kalimat tersebut belum pernah terpaparkan dalam realitas keindonesiaaan. Sebuah realitas, seringkali menjadi jembatan terbaik dalam menghubungkan makna sebuah kalimat yang pada mulanya terasa asing. Ini menjadi salah satu kesulitan dalam menerjemahkan secara teknis beberapa makna berbahasa Inggris, yang tak memiliki sebuah ‘realitas geografis’ dan ‘realitas kesehatan lokal’. Kesulitan yang bersifat perspektif itu, membuat pemikiran original dalam bahasa Inggris agak ‘temaram’ untuk diketahui dalam versi Indonesia. Bagi yang suka membaca filsafat (masalah kesehatan juga bisa difilsafatkan), maka sebuah makna dalam bahasa Inggris, seringkali terputus bagai ‘jembatan runtuh’ bila hendak diterjemahkan. Haruskah selalu berpikir ke arah culdesack (menemukan jalan buntu), bila selalu berada di ‘jembatan runtuh’ pemaknaan itu?
‘Sok British’ everyday, Yes!
Cara gampang untuk bisa berbahasa Inggris adalah kesiapan berbahasa secara gado-gado, yakni berbahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia. Tak mengapa bila terlihat ‘sok British’, karena sedikit-sedikit berbahasa Inggris, sedikit berbahasa Inggris. Berbahasa Inggris kok sedikit-sedikit! Campuran yang ‘sedikit-sedikit’ itu, bisa makin lama makin berkurang bila semakin banyak kosakata berbahasa Inggris yang bisa dikuasai. Program ‘English Day’ sebenarnya tak terlalu baik, bila hanya hari tertentu diwajibkan di areal sekolah untuk berbahasa Inggris. Lebih baik bila setiap hari berbahasa Inggris di sekolah, meskipun disana-sini bercampur dengan bahasa Indonesia. Berani berbicara ala ‘gado-gado’ dan ‘sok British’ ini, yang akan diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris versi berbasis komunitas tersebut.
Keberanian semacam ini, yang belum diterapkan di sekolah-sekolah di Bontang, karena ‘English Day’ lebih terasa sebagai paksaan dan keharusan, bukan suatu yang alami. Membaca teks dalam bahasa Inggris, lalu kemudian mengulas, membahas, mendiskusikan dan mendialogkannya, lebih baik terjadi secara alami, bukan suatu keterpaksaan dan kewajiban. Pelajar atau penuntut ilmu di Bontang bisa mengalami ‘stress negatif’ atau ‘depresi literal’, bila selalu belajar dalam keterpaksaan dan hanya memenuhi standar kewajiban belaka.
Tiga Penyakit yang belum terobati di Bontang
Di masa depan yang pasti akan terjadi (the nextime future) akan terjadi perubahan makna pada berbagai kosakata yang dipakai dalam ilmu kesehatan (terutama ‘kesehatan sibernetik’). Apa yang disebut sakit seperti sick, Ill, dan ache, bukan lagi bersifat fisik belaka. Seseorang yang menderita penyakit (got sick), bukan sekedar sakit secara fisik, tapi ‘menderita sakit karena tak bisa berbahasa Inggris’ (got Englisick). Illiterate, tak bisa lagi diartikan sebagai ‘buta hurup’, sebagaimana pengertian sekarang ini. Illiterate diartikan sebagai ‘ill-literate’ (sakit secara literasi) atau sakit karena tak bisa membaca literatur berbahasa Inggris. Istilah penyakit masa depan akan berubah menjadi fall ill-literate, got ill-literate, dan took ill-literate.
Suatu ketika, seseorang tak perlu lagi dicemaskan bila menderita headache (sakit kepala) atau backache (sakit pinggang), karena obat-obatnya sudah tersedia di apotik, baik yang bermerek atau generik. Di Bontang, melalui Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), pengobatan headache dan backache, dapat dilakukan secara gratis. Penyakit fisik seperti itu tak perlu menimbulkan masalah kecemasan bila dialami di Bontang. Kecemasan itu perlu ada, jika masyarakat Bontang menderita literache (sakit secara literasi), yang efeknya lebih ringan dari ‘ill-literate’. Literache, hanya terjadi bila seseorang sesekali membaca literatur/buku, sedangkan Ill-literate terjadi bila memang jarang membaca literatur.
Masa depan dalam garis waktu linear yang disebut ‘future’, pasti akan terjadi suatu hari nanti. Masa depan yang non-linear yang disebut the nextime future, sudah terjadi sekarang dan bukan pada suatu hari nanti. Sekaranglah waktu terbaik, mengubah masa depan Bontang, karena ‘masa depan’ sebenarnya kini juga sedang berlangsung tanpa pernah disadari. Tanpa kemampuan berbahasa Inggris, bukan seseorang hanya akan mengalami ‘future shock’ yang futuristic, tapi juga ‘futurisick’ (penyakit masa depan). Don’t get futurisick, now!
‘Bontang Cerdas’ yang belum ‘smart, intelect and critic’
‘Bontang Cerdas’, seharusnya meningkatkan partisipasi langsung masyarakat untuk mencerdaskan diri sendiri. Keterlibatan pemerintah yang teramat dominan dalam program ‘Bontang Cerdas 2010’, justru teramat memanjakan masyakarat. ‘Masyarakat manja’, yang sepenuhnya hidup dengan acuan dari pemerintah, susah untuk disebut sebagai masyarakat cerdas dalam kompleks ‘Bontang Cerdas’. Keengganan masyarakat untuk menata sendiri suatu cara untuk ‘cerdas’, menjadi persoalan mendasar di Bontang. ‘Pola pikir’ masyarakat belum begitu berubah secara umum, dan itu menghambat pencerdasan yang dicanangkan pemerintah. Memanjakan masyarakat dengan metode public service, akan merusak pola pikir masyarakat. Public service, seharusnya hanya untuk mereka yang masih terhitung miskin secara materi (the have not) dan bukan untuk mereka yang sudah kaya (the have). Kalangan the have, masih menikmati apa seharusnya bukan milik mereka. Public service di bidang kesehatan, juga diambil alih dengan tidak sepantasnya oleh kalangan the have .
Pola pemikiran, malah hampir tidak ada di Bontang. Mengubah ‘pola pikir’ ke arah ‘pola pemikiran’, masih butuh waku waktu panjang, meskipun sebenarnya bisa dimulai sekarang. Apa yang disebut ‘cerdas’ tersebut, ternyata hanya karena umumnya usia wajib belajar di Bontang, memang benar-benar aktif bersekolah. Cerdas, dalam artian ‘Bontang Cerdas’, bukan dalam pengertian smart, intelect, dan critic. Cerdas dalam ketiga pengertian itu, tak bisa dilakukan dengan dominasi bantuan pemerintah. Masyarakat harus merubah pola pikir, agar ketiga istilah kecerdasan itu benar-benar terjadi di Bontang. Masyarakat cerdas dalam artian smart, intellect dan critic, itulah yang telah memiliki ‘pola pemikiran’, dengan ‘pola pikir’ yang sistematis, metodis dan terstruktur.
Kursus dengan partisipasi terbuka dan berbasis masyarakat ini, diharapkan untuk tak menjadi centripetal (bersifat memusat) dan sepatutnya menjadi centrifugal (menjauhi pusat). Setiap komunitas mampu membuat kursus sendiri dan bertanggung-jawab dalam pencerdasan diri mereka sendiri. Cara berpikir dan bertindak ala centripetal, dengan menjadikan pemrintah sebagai titik pusat acuan dalam pencerdasan, sebenarnya masih menjadi bagian dari keterbodohan atau kebodohan. Cara berpikir dan bertindak haruslah centrifugal, dengan perlahan-lahan mengurangi campur tangan pemerintah dalam hal pencerdasan diri. Komunitas yang otonom dan mandiri, wajib hukumnya melakukan cara berpikir dan bertindak yang centrifugal.
‘Komunitas Bontang Cerdas’, harus meminimalkan ketergantungan pada pemerintah, baik dari ide maupun dari praktek dalam hal pencerdasan. Komunitas yang masih memiliki ketergantungan pada pemerintah, adalah masyarakat yang tidak berubah ‘pola pikir’-nya dan belum memiliki ‘pola pemikiran’. Memutuskan tali ketergantungan pada suatu program pemerintah dan menyelenggarakan sendiri program yang dikelola oleh komunitas itu sendiri, merupakan langkah alternatif yang bisa ditempuh, sekarang! Tak ada yang harus tertunda, bila tidak sekarang, untuk apa menanti hari esok? Hari ini secara nonlinear adalah hari esok itu sendiri.
‘Perintah literal’ UUD 45 tentang pendidikan gratis
Apa yang terjadi jika program ‘Bontang Cerdas’ tak dilanjutkan oleh pemerintahan selanjutnya, pasca dr. H. A. Sofyan Hasdam, Sp. S? Berhentikah program pencerdasan itu, bila sosok penguasanya telah berganti? Program pemerintah, seringkali hanya bagian dari ‘selera penguasa’ itu sendiri atau sebagai ‘menu kampanye belaka’, padahal pencerdasan rakyat merupakan ‘perintah literal’ UUD 45. Betapa banyak dari kalangan pemerintah daerah dari berbagai wilayah yang tak mentaati ‘perintah literal’ tersebut. Pemerintah Bontang, merupakan pengecualian dari ketidak-taatan itu, karena berusaha mewujudkan “Bontang Cerdas 2010”. Setelah ‘Bontang Sehat 2008’ terlampaui dalam launching bulan november/desember ini, maka ”Bontang Cerdas 2010’ sedang menunggu untuk di-launching juga, dua tahun mendatang.
‘Sehat’ dan ‘Cerdas’, dua kombinasi terbaik yang tak lama lagi menjadi ‘suasana harian’ dan ‘ritual sehari-hari’ masyarakat Bontang. Apa yang akan dilakukan dengan bentuk partisipasi terbuka dan berbasis masyarakat ini, hanyalah suatu langkah kecil menuju masa peralihan dari waktu sekarang (now) menuju masa depan non linear (the nextime future).
Ostaf Al Mustafa M.
Anggota Redaksi MEDIA HUSADA, DINAS KESEHATAN BONTANG
Alamat kontak ostafalmustafa@yahoo.com dan akses blog pada mediahusadabontang.wordpress.com/. Blog ini bukan merupakan situs resmi penerbitan MEDIA HUSADA DINAS KESEHATAN BONTANG, hanya merupakan penampung tulisan yang belum sempat di muat dalam edisi cetak. Blog ini, untuk sementara belum dihiasi asesoris apapun, selain kumpulan-kumpulan tulisan belaka.
BIODATA PESERTA
NAMA :
ALAMAT :
TEMPAT/TANGGAL LAHIR :
NOMOR TELEPON :
E-mail :
PEKERJAAN :
INSTANSI :
Perhatian:
Untuk memulai keterlibatan langsung dalam “HEALTH UP YOUR ENGLISH”, sebaiknya isi tulisan dan formulir ini diperbanyak sendiri secara individu atau kelompok, karena kegiatan ini tak memiliki dana untuk keperluan tersebut. Cara ini menunjukkan anda telah berpartisipasi langsung dalam aktivitas ini.
PERTANYAAN DI BAWAH INI, MENJADI MASUKAN UNTUK MENGETAHUI KEBUTUHAN PESERTA DALAM HAL BERBAHASA INGGRIS
- Bagian manakah yang menurut Anda, yang tersulit dalam memahami bahasa Inggris?
A. Tatabahasa (Grammar)
Mengapa? Sebutkan permasalahannya!……………………………………………………….
B. Berbicara dalam percakapan sehari-hari (Dayly Speaking)
Mengapa? Sebutkan permasalahannya!……………………………………………………….
C. Berbicara dengan topik khusus dan mempresentasikan suatu topik (Speaking in special topic and presentating an item in it)
Mengapa? Sebutkan permasalahannya!……………………………………………………….
D. Membaca teks dan mendiskusikannya (Reading text and discussing the content in it)
Mengapa? Sebutkan permasalahannya!……………………………………………………….
E. Bila ada permasalahan lain, tolong uraikan……………………………………………………………..
SETELAH FORMULIR INI DIISI, HARAP DIKEMBALIKAN PADA OSTAF AL MUSTAFA, Ruang PERENCANAAN DINAS KESEHATAN BONTANG atau kontak ostafalmustafa@yahoo.com
HEALTH UP YOUR ENGLISH NOW AND THEN!
-
Terkini
- PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
- Ambulans masuk ruang sekret
- ‘Bahasa yang sakit’ belakang punggung
- Dari makanan basi dan hingga basa basi
- Desain kaos, tanpa disain apapun
- Dokter Andi Anwar, dokter sekret menembus barikade hujan
- ‘Kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di sekret
- ‘Mendayung bersama’ sebelum ‘layar terkembang’
- Pawang hujan ternyata juga basah kuyup
- Perburuan makanan basi 02.00 dini hari
- Pimpinan tanpa ‘remote control’
- Riwayat pembuatan ID Card
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (25)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS