Perburuan makanan basi 02.00 dini hari
Sekitar pukul 23.00 WITA pintu mushalla Dinkes Bontang digedor Emil, seorang petugas sekret yang berada didalamnya, sontak kaget, “Ada apa?” tanyanya. “Atlet DKI di Wisma Atlet Loktuan menolak makanan yang telah disajikan dalam bentuk prasmanan. Makanan dianggap tak layak disantap!” ujarnya. “Jadi kita ngambil sampel makanan itu? Emil menjawab, “Kita temui dulu Bu Lina dan Mbak Upik, untuk memastikan apa yang harus dilakukan!”
Ketukan di pintu mushalla di latar belakangi pada suatu kabar buruk kuliner di Wisma Atlet, Loktuan. Pada 11 Juli 2008, pukul 19.00 WITA, pihak offisial DKI Jakarta melaporkan pada Tim Gizi tentang lauk ikan yang sudah busuk. Tim Gizi yang dipimpin Hurriani, SKM (Kasie Pengawasan Gizi dan Menu) melakukan beberapa tingkatan tahapan sebagai respon terhadap laporan ofisial DKI Jakarta. Tahapan itu yakni mencicipi makanan tersebut, mengambil sampel, dan melaporkan pada petugas sanitasi. Bu Lina dan Mbak Upi yang merupakan petugas Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit, kemudian melaporkannya ke sekret.
Malam itu di sekret, sudah ada Bu Lina dan Mbak Upik yang membahas masalah di Wisma Loktuan bersama Mas Alif. Bu Lina dan Mbak Upik beberapa saat kemudian Emil, seorang agen sekret, Bu Lina dan Mbak Upik meluncur ke arah komples PKT menuju sebuah rumah makan. Di depan rumah makan itu, mobil di parkir. Seorang satpam yang agak curiga dengan keberadaan empat orang itu, langsung menghampiri dengan menyodorkan beberapa pertanyaan. Bu Lina, Mbak Upik dan Emil langsung merespon kecurigaan satpam tersebut, dengan menjelaskan keberadaan mereka di tempat itu. Satpam PKT yang tadi curiga itu, malah ikut terlibat pula bersama ‘Tim Sekret XVII’ mencari sumber pangan yang diduga merupakan bahan lauk dari prasmanan tersebut.
Pengambilan sampel itu memakan waktu sekitar 2 jam. Dalam durasi itu, tim harus menunggu pihak yang bertanggung-jawab sekitar satu jam dalam penyediaan makanan tersebut. Pada mulanya orang tersebut tersebut enggan datang, namun setelah diberi pengertian melalui saluran HP, ia pun datang. Sebelumnya, ia hanya meminta security rumah makan yang berjaga disana untuk membuka freezer. Isi freezer dibongkar untuk mengambil sampel yang diinginkan berupa ikan. Pembongkaran isi freezer oleh satpam, tak mendapatkan sampel yang diinginkan. Setelah datang pemilik rumah makan tersebut, maka acara bongkar-bongkar mendapatkan hasil.
Dari kompleks PKT, tim bergerak ke arah jalan KS. Tubun. Di sana tim menuju sebuah rumah seorang pemilik catering, yang juga menjadi penyedia makanan untuk atlet. Disini, sang pengusaha catering langsung meminta tim untuk mengambil dan melihat keseluruhan isi freezer. Sang pengusaha catering tersebut merupakan seorang ibu sangat ramah dan cantik, malah menyiapkan juga minuman hangat dan kue. Sekitar setengah jam lebih, sang ibu yang sangat kooperatif itu menjelaskan kronologis datangnya daging ayam sebanyak tiga karung. Tiga karung ayam tersebut, dibawa dari Samarinda tanpa menggunakan box berpendingin. Tentu saja, lapisan es pada ayam-ayam kemudian mencair. Daging ayam telah mengadakan perjalanan cukup jauh, dengan kondisi yang memenuhi syarat penyimpanan. Ayam itu berada satu tempat dengan minyak goreng. Ketika daging ayam itu disimpan di freezer, es pada ayam tersebut telah mebeku. Ia tak menggunakan daging-daging ayam tersebut sebagai lauk, karena ia tak percaya dengan kualitasnya.
Pada saat mengadakan wawancara tersebut, datang pula Mas Alif dengan Adel. Keduanya tentu saja ikut pula menikmati sajian dini hari itu. Daftar pertanyaan makin bertambah dengan adanya Mas Alif, karena ada beberapa yang harus dikonfirmasikan berkaitan dengan alur transportasi daging ayam, cara penyimpanan dan kondisi daging yang disajikan pada atlet. Daging ayam tersebut berasal dari Bogor kemudian didistribusikan ke Balikpapan, Samarinda maupun ke Bontang. Cukup jauh jarak tempuh perjalanan daging ayam tersebut, hingga akhirnya batal mengisi perut para atlet PON XVII di Bontang.
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
- PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
- Ambulans masuk ruang sekret
- ‘Bahasa yang sakit’ belakang punggung
- Dari makanan basi dan hingga basa basi
- Desain kaos, tanpa disain apapun
- Dokter Andi Anwar, dokter sekret menembus barikade hujan
- ‘Kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di sekret
- ‘Mendayung bersama’ sebelum ‘layar terkembang’
- Pawang hujan ternyata juga basah kuyup
- Perburuan makanan basi 02.00 dini hari
- Pimpinan tanpa ‘remote control’
- Riwayat pembuatan ID Card
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (25)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS