Pawang hujan ternyata juga basah kuyup
Selama pelaksanaan PON XVII, ternyata ada juga usaha untuk memindahkan hujan dari lokasi venue ke lokasi lainnya. Usaha itu sama sekali tak manjur, karena hujan tetap saja turun, sekeras shower di kamar mandi. Kisah ini diceritakan Pak Agung (Agung Ardianto, S. Psi, Kasie Ambulans), berdasarkan apa yang dialami atlet Banten. Cerita itu dimulai ketika paket antaran makanan tiba di wisma atlet. Melihat hal itu, rasa lapar juga bergejolak di usus 12 jari pawang hujan. Kepada panitia ia mendesak untuk diberi jatah makan. “Mana jatah makan saya?” tanyanya. Belum sempat, permintaan dan pertanyaannya dipenuhi, atlet Banten menimpali, “Lho, di daerah saya pawang hujan
itu berpuasa. Bila ia berbuka, maka hujan pun turun!” Di saat PON XVII, baru saja pawang minta jatah sarapan, hujan langsung turun. Hujan pasti akan lebih deras bila ia berbuka puasa pagi itu. Memangnya ada puasa yang berbuka pagi hari dengan sarapan nasi kotak?
Kisah kedua tentang turunnya hujan selama PON XVII disinyalir akibat konflik internal sesama pawang hujan profesional dari Guntung versus Bontang Kuala. Pawang hujan dari Guntung, memindahkan awan ke arah Bontang Kuala. Pemindahan hujan dilakukan, karena di wilayah Guntung akan diadakan pesta adat oleh komunitas orang Kutai. Pawang Hujan di Bontang Kuala tak terima kiriman awan ke wilayahnya, karena akan diadakan pembukaan pesta laut pada 8 Juli 2008. Bontang Kuala harus terbebas dari hujan selama diadakannya pesta laut yang akan berlangsung selama sepekan. Sang pawang Bontang Kuala kemudian mengirim balik awan-awan itu ke lokasi semula, akibatnya hujan pun turun di Guntung. Pawang Guntung tak terima, lalu mengirim kembali awan itu ke Bontang Kuala.
Perseteruan itu terjadi tidak terlalu lama, lalu keduanya membuat ‘kesepakatan telepatik’ agar sebaiknya awan dikirim ke wilayah lain yang tak berkaitan dengan pesta adat Guntung dan pesta laut Bontang Kuala. Lokasi yang dipilih yakni daerah venue terbang layang dan sekitarnya. Hujan yang turun di venue terbang layang, membuat lokasi tersebut becek dan berlumpur. Pertandingan kemudian dipindahkan ke Santan-Marangkayu, suatu daerah yang masih bebas dari limpahan awan kiriman dua pawang hujan tersebut. Sampai pertandingan usai dan dilakukan upacara pemberian medali, lokasi venue terbang layang memang masih menyisakan ‘kisah-kisah basah’ dari dua pawang hujan tersebut. Di venue terbang layang, memang tanah masih berlumpur dan bisa menenggelamkan sepatu kantoran ala pentopel dan sepatu berhak tinggi. Seribu titik lumpur dapat bergerombol di telapak sepatu dengan mudah di tanah becek tersebut. Gadis-gadis cantik berpakaian adat Dayak dan Bontang, yang bertindak sebagai mc (master of ceremony) dan pembawa medali, memilih untuk tak bersepatu dan beralas kaki apapun. Kaki-kaki halus itu menapak lantai lapangan terbang itu dan mondar-mandir membawa nampan medali. Hanya sekitar radius 3-5 meter dari lokasi pemberian, tanah becek menanti untuk melumpuri tapak-tapak kaki gadis–gadis berpakaian adat itu. Kaki-kaki halus itu akhirnya terkena juga tanah becek, yang harus dilaluinya sebelum masuk ke mobil jemputan.
Pada momentum pemberian medali itu, terlihat hadir Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hindar Jaya, Sp.OG beserta Om Gun ( Abdul Fatah Guntur). Beberapa saat kemudian menyusul juga Emil, seorang lagi petugas sekret yang tak teridentifikasi, Mbak Zen (Zennidar Aulia Nashira) dan Pak Agung. Di deretan kursi tim medis, nampak dr. M. Firmansyah. Ambulans Askes terparkir beberapa meter dari lokasi pemberian medali. Didalamnya terlihat petugas medis dan anggota PMI. Pak Hasbi, sopir ambulans dari RSUD berbaring santai di dalam ambulans. Saat pemberian medali, suasana cukup gerah dan matahari bersinar terik. Tak terlihat barisan awan gelap di atas lapangan terbang layang. Pada hari itu juga, dua pawang telah menghentikan pengiriman hujan di sekitar venue . Itulah hari paling cerah dan terik selama diadakannya pertandingan cabor terbang layang.
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
- PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
- Ambulans masuk ruang sekret
- ‘Bahasa yang sakit’ belakang punggung
- Dari makanan basi dan hingga basa basi
- Desain kaos, tanpa disain apapun
- Dokter Andi Anwar, dokter sekret menembus barikade hujan
- ‘Kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di sekret
- ‘Mendayung bersama’ sebelum ‘layar terkembang’
- Pawang hujan ternyata juga basah kuyup
- Perburuan makanan basi 02.00 dini hari
- Pimpinan tanpa ‘remote control’
- Riwayat pembuatan ID Card
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (25)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS