Riwayat pembuatan ID Card
Tujuh langkah arah kiri WC, terdapat dua meja yang beberapa detailnya sudah rusak. Detail yang rusak berupa laci, kaki meja dan pada bagian sudut-sudutnya. Di meja itu, terdapat satu set komputer yang senyap dan hening, karena tak dilengkapi speaker. Disitulah, Mas Agus mengetik nama-nama calon petugas sekret, petugas venues, petugas medical centre dan petugas medical wisma. Nama-nama itu yang kemudian disortir oleh dokter Anwar dan Nur Ilham Ahmad, SKM (Wakil Sekretaris). Dari keseluruhan formulir yang disebar sekitar 300 lembar, terdapat dua ratus lebih nama yang tercatat di data sekret. Panitia yang menangani Sub PB PON XVII Bidang Kesehatan Bontang sebanyak tujuh puluh empat orang, sebagaimana yang SK ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan Bontang, dr. Hindar Jaya, Sp. OG.
Mereka yang disortir tersebut, yang kemudian menangani 24 jam pekerjaan-pekerjaan di sekret. Emil Salim, termasuk petugas yang berjaga di sekret sampai 3 shift. Ia hanya berhenti bekerja dalam partisi 24 jam, ketika makan, minum, mandi dan tidur. Ia serba bisa dalam menangani semua tugas tugas apapun. Ia bertugas sebagai tukang ketik, cuap-cuap di depan pesawat, supir ambulans, mendata nama-nama obat, mengantar makanan, penjaga sekret, mencuci mobil ambulans dansebagainya. Ia mulai mendaftar sebagai petugas sekret, saat bertandang ke villa dr. Hindar Jaya, Sp.OG di Bontang Kuala. Villa itu terletak di depan Café Kapal. Begitu namanya tercatat dalam daftar calon petugas sekret, ia langsung bertugas selama 3 shift. Lima orang petugas Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial) yakni Andreas Kurniawan, Abdul Halim, Adhel, Kukuh dan Haidir Syam juga termasuk orang yang terlibat di kepanitiaan. Secara resmi, Kukuh bertugas sebagai supir ambulans, sedangkan keempatnya berjaga di sekret.
Nama-nama yang tercatat dalam data base sekret, kemudian diantar ke PB PON XVII di Samarinda. Ada juga yang terkirim melalui email. Dari Samarinda inilah, kemudian Bu Diana, Mas Alif dan Mbak Indra mengambil paket ID Card yang disediakan PB PON XVII. Paket ID Card dari Samarinda tak mencukupi, sehingga pihak sekret memproduksi pula ID card. Produksi ini, juga untuk menggantikan ID card yang hancur karena hujan. ID card pertama kali hancur di lapangan sepakbola, sebagaimana yang dialami anggota-anggota PMI yang bertugas di cabor sepakbola. Titik-titik air kembalimenunjukkan geliatnya, bukan hanya di sekret tapi juga di venue (tempat pertandingan) sepakbola.Dari air kembali ke air, begitula kegiatan paling basah di bulan Juni ini.
Serangan ‘jadwal amburadul’ memicu ‘reaksi berantai kelaparan’
Tiga pekan sebelum virus ‘amburadul’ menyerang komputer sekret, sebenarnya telah ada yang amburadul di ruang tersebut. ‘Jadwal amburadul’ dari cabor yang dipertandingkan di Bontang, lebih merepotkan daripada serangan virus ‘amburadul’. Hikayat virus ‘amburadul’ dimulai ketika terjadi serangan pada fail berekstensi JPG. Foto-foto lalu berubah menjadi application yakni ‘JPG. Exe’. Hardisk menjadi error karena berubah menjadi image, sehingga tak bisa terbuka. Virus in juga memiliki folder tersendiri yakni fotoku.exe dan sejumlah folder tambahan. Folder program antivirus bahkan berubah menjadi applikasi, sehingga antivirus telah menjadi virus itu sendiri. PCMAV 1.5 yang mampu memberantas virus tersebut bisa juga terkalahkan, bila nama antivirus itu tak diubah. Flashdisk yang telah terinfeksi amburadul.exe, sama sekali tak bisa dibersihkan dengan PCMAV 1.5 . Satu-satunya cara yang ampuh yakni mengosongkan isi flashdisk, lalu memformatnya. AVG, MCafee dan Kaspersky yang telah di-update tak bisa menghadapi virus lokal tersebut. Ketiga antivirus itu dibuat menjadi letoy, oleh virus made in Indonesia.
Sebuah warnet di dekat Dinkes yang menggunakan Kaspersky, telah terinfeksi pada ‘Hardisk D’. Siapapun yang menggunakan flaskdisk yang dicolok di CPU warnet itu dipastikan membawa virus ‘amburadul’ pula ke rumah atau kantornya. ‘Hardisk C’ di warnet itu, selamat karena dilindungi oleh sebuah program yang mem-deep freeze apa saja yang masuk ke dalam sistem. Warnet inilah yang sering digunakan untuk mengirim email yang berisi data rekap surveilans.
Virus ‘amburadul’ bisa dihilangkan jika melakukan scan dari CD yang dibuat autoplay atau manual dengan cara meng-klik antivirus tersebut. Virus ‘amburadul’, hanya membuat keamburadulan beberapa saat saja, setelah itu semua kembali normal. Serangan virus hanya sebuah rutinitas harian di Dinkes Bontang! Tak ada ada data yang hilang, kecuali beberapa foto gadis cantik yang harus di-delete. Lho, ada foto gadis di hardisk ya! Hayo punya siapa? Virus ‘amburadul’memang menyusup melalui foto-foto indah itu. “Wanita racun dunia”, seperti dalam bait syair The Changcuters, mungkin ada benarnya! Foto wanita itu, telah membikin amburadul dan meracuni beberapa CPU dan flashdisk di sekret. Resiko terinfeksi virus harus berani dihadapi oleh setiap lelaki di sekret, walaupun keamburadulan itu cukup mengganggu beberapa menit. Gangguan yang indah itu adalah output dari aktivitas cuci mata dua dimensi. Kalau hanya serangan virus, lelaki di sekret tak pernah ada yang takut! Emil yang sedang ‘jablai berat’, juga tak takut pada virus ‘amburadul’, meskipun flashdisk-nya terinfeksi. Akibat adanya serangan virus ini, pihak pengguna komputer PDK Bontang Baru tak ingin ada flasksdisk dari sekret di colok disana. Serangan virus, menimbulkan dampak psikologis berupa ‘trauma virtual’ dari PDK Bontang Baru. ‘Trauma virtual’ tak terjadi di sekret, karena sudah terbiasa mengekspor dan mengimpor virus apapun ke dalam CPU dan flaskdisk. Serangan virus, cuma rutinitas belaka yang tak perlu dicemaskan di sekret.
Sebenarnya, terdapat keamburadulan yang lebih merepotkan daripada serangan virus ‘amburadul’ yakni jadwal cabor yang terlambat diterima di sekret. Untuk event tingkat nasional, keamburadulan ini cukup parah karena memicu reaksi berantai. Reaksi berantai keamburadulan itu yakni dokter Anwar yang menyusun jadwal tugas di venues, tak bisa serta merta menuntaskan penugasan itu dengan cepat. Semangat kerja dokter Anwar yang tinggi, terhambat oleh keamburadulan jadwal cabor yang disusun panitia di Bontang. Ia perlu datang di setiap sore hanya untuk memastikan keberadaan jadwal yang tak kunjung tiba.
Selama masa keamburadulan itu, penggunaan telepon di sekret melonjak hanya untuk menelpon semua panitia di cabor tersebut. Setiap panitia yang berurusan dengan jadwal dihubungi satu persatu, hanya untuk mendapatkan kepastian adanya jadwal yang baku. Situs resmi pon, juga idem dito yakni tak punya jadwal khusus pada setiap cabor. Di situs tersebut hanya ada jadwal umum untuk semua cabor. Situs berharga mahal itu sama sekali tak disiapkan untuk link dengan panitia-panitia lokal di luar Samarinda. Ketidak-siapan pelaksanaan PON XVII, bisa terukur dari keterlambatan penyusunan jadwal.
Patokan jadwal yang terlambat, memperlambat penentuan tugas di setiap medical venues, medical center dan medical wisma. Keterlambatan itu juga menghambat penyusunan alokasi dana yang dipersiapkan sebagai honor, biaya transportasi, makanan dan sebagainya. Terlambat menerima paket nasi dos, sebagaimana yang dikeluhkan petugas jaga di venues, menjadi salah satu efek negatif dari reaksi berantai itu. Mood (suasana hati) para petugas sekret dan sopir sekret, secara otomatis terformat untuk ‘terlambat mengantar makanan’, karena merupakan reaksi berantai dari keterlambatan jadwal cabor.
Air AC, asal muasal evolusi kehidupan di sekret PON
Ruang sekret ini, berada di lantai satu Dinas Kesehatan Bontang, yang sebelumnya merupakan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Di ruang ini, selama beberapa hari suasana cukup muram, terutama sebelum terjadi pembukaan PON XVII. Hanya ada sebuah komputer dengan ratusan lagu di folder ‘my music’. Ratusan lagu itu sama sekali tak berarti, karena tak ada hardware berupa speaker. Satusatunya nada monoton yang bisa didengarkan dengan telinga supersensitif, hanya bunyi tetes air yang melompat-lompat di lantai. Tetesan air tersebut pasti akan terdengar indah, bila saja Kitaro ada disini. Kehidupan di sekret dimulai dari tetesan air ini. “Omni vivo sekret PON XVII ex airo AC” (segala kehidupan di sekret PON XVII bermula dari air AC), begitulah pepatah ‘Latin amburadul’ yang menggambarkan evolusi kehidupan di sekret tercinta.
Di ruang ini, AC terlihat primitif karena air terus menerus menetes dari mesin pendingin udara tersebut. Disini, terasa seperti berada di pegunungan, suasana udara cukup sejuk bersama tetesan embun yang memadat dalam butiran-butiran air. Air tetesannya mampu menggenangi ruang ini sejauh 70 cm. Zul (Zulkarnain), Mujiatman dan Nanang harus menaruh helm biru untuk menampung tetesan air itu. Ketiganya juga harus berpayah-payah mengepelnya hingga lantai bersih dari setetes air pun. Apalah daya helm plastik itu, karena ketika air itu melimpah di dalamnya, maka helm kemudian bergulingan. Air kembali menggenangi ruang sekret, dengan radius yang makin meluas hingga 100 cm. Nasib helm biru itu berakhir, ketika Nanang membawa ember kecil. Helm dipensiunkan sebagai penampung air dan sejak itu lantai mulai berangsur mengering. Ember berfungsi cukup baik, sampai akhirnya, ‘sepatu yang tak bermata’ tak sengaja membuat gerakan Kung Fu legendaris Wong Fei Hung berupa ‘tendangan tanpa bayangan’. Ember berguling dan air menetes lebih jauh hingga radius 225 cm. Air dari AC tersebut selalu berakhir tragis, tapi itu bukan titik klimaks dari kisah air bocoran AC. Titik air sejumlah seribu tetes, memiliki klimaks tersendiri di setiap butirannya.
Serba-seribu titik air di PON XVII
Seribu kejadian telah terkumpul dalam kegiatan PON XVII Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Bontang. Tak semuanya bisa tertuliskan di Media Husada, karena sempitnya ruang kertas dan batas margin kiri kanan. Entah dari mana entry point, untuk memulai apa yang terbaik dalam cerita dan berita selama lebih dari sepuluh hari tersebut. Mungkin cerita dan berita ini lebih baik di mulai dari lokasi ‘nol centimeter’ yakni ruang sekretariat (selanjutnya disebut ‘sekret’) Sub PB PON XVII Bidang Kesehatan. Semua yang kami ceritakan dari ‘nol centimeter’, merupakan kisah nyata dari orang-orang yang hidup di dunia nyata. Nama, dialog, tempat dan peristiwa, sama sekali bukan dikarang dari rekacerita imajiner. Siapapun yang pernah memasuki ruang sekret, pasti punya cerita dan pantas dikisahkan. Jika tak semua dikisahkan, hal itu hanya karena keterbatasan ruang literasi.
Apa kata Agung Ardiyanto, S.Psi tentang ‘sampul indah’
Pada edisi ketiga ini, Agung Ardiyanto, S. Psi (Kepala Staf Biro Kepegawaian) memberi saran tentang bagaimana sebuah media dapat memiliki daya tarik, tebar pesona, bahkan mungkin ‘sex appeal’. Menurut pandangan jebolan sarjana psikologi ini, daya tarik pertama media cetak di mulai dari tampilan sampul. Media cetak enggan dilirik oleh pembaca, karena sampulnya tidak menarik. Sampul harus diberi suatu foto atau ilustrasi, yang memiliki ‘eye catching’ (memikat pandangan mata). Foto atau ilustrasi yang ‘eye catching’, dapat berupa suatu kejadian luar biasa, unik, dan tentu saja yang paling umum adalah pesona wajah-wajah bening dan segar. Wajah bening sering disebut gadis sampul (cover girl), yang menjadi daya jual pertama majalah remaja, majalah populer bahkan kadang-kadang juga majalah semi-populer.
Tentu saja, “Media Husada” ini, tak akan pernah memuat cover girl sebagai ‘eye catching’, karena ‘berat diongkos’ dan tentu saja harus ada pemotretan khusus. “Media Husada” belum memiliki peralatan fotografi standar, yang memungkinkan adanya pemotretan khusus untuk keperluan ‘eye catching’. Istilah ‘berat diongkos’, tentu ditujukan pada adanya anggaran tambahan yang berkaitan dengan pemuatan foto tersebut. Sang model tentu saja harus diberi lembaran-lembaran rupiah sebagai honor. Bila “Media Husada” sudah memiliki peralatan fotografi standar, maka tentu saja ‘cover girl’, ‘cover girl friend’ (pacar dijadikan sampul), ‘cover super-girl’ (gadis super sebagai sampul), hingga ‘cover girl next door’ (gadis tetangga sebagai sampul) akan bisa terpampang di pintu depan halaman satu “Media Husada”.
Gadis sampul yang berkaitan dengan “Media Husada”, tentu saja ditampilkan dalam pose dokter, bidan, anggota PMI atau profesi apapun yang berkaitan dengan ‘health worker’ (pekerja kesehatan). Gadis sampul bisa direkayasa profesinya dalam pemotretan atau juga memasang foto sosok nyata tenaga medis/paramedis yang memang hidup di dunia ril. Para mode bisa direkayasa tampilannya sebagai tenaga medis/paramedis yang seolah-olah bekerja di Bontang. Para mode tentulah harus babyface (wajah imut-imut), fotogenic dan juga ‘fotogenit’ (tampil genit dalam foto). Tampilan perempuan sebagai obyek ‘eye catching’ memang harus selalu genit dalam balutan kosmetik, busana, pose dan senyuman. Kegenitan telah direkayasa oleh fotografer bila perempuan terpajang di bagian sampul depan suatu media cetak.
Adanya cover girl atau pemasangan foto perempuan di sampul depan, berkaitan dengan istilah ‘sex appeal’ (daya tarik seks), fashion (gaya) dan juga passion (hasrat). Laki-laki dan perempuan, sebenarnya sama-sama menjadi subyek dan sekaligus obyek dari ‘sex appeal’ dan ‘passion’. ‘Gadis sampul’ hadir sebagai wujud dari hasrat lelaki untuk melihat perempuan sebagai objek seksual dua dimensi. Bagi perempuan, ‘gadis sampul’ menjadi cara untuk mimetik (meniru), copycat (meniru-niru), dan sekaligus rela menjadi ‘korban mode’. Gambar dua dimensi pada sampul, membuat konsumen serasa hidup di ‘dua dimensi’ pula yakni ‘dimensi dunia nyata’ dan ‘dimensi dunia tiruan’.
Pada ‘dimensi dunia nyata’, konsumen penikmat media merasa selalu ketinggalan dalam segala hal seperti asesoris, produk kosmetik baru, gaya hidup baru dan sebagainya. Pada ‘dimensi dunia tiruan’, produsen media selalu memiliki produk baru yang bisa ditiru, diikuti, dibeli dan setidaknya diangan-angankan. Pada ‘dimensi dunia nyata’ dan ‘dimensi dunia tiruan’ terjadilah ‘hiperealitas’ yakni orang-orang tak bisa lagi bisa membedakan realitas, irealitas dan nonrealitas, karena semua tersaji dan terdefragmentasi di depan hidung mereka.
‘Gadis sampul’ atau tawaran konsumtifisme yang disajikan pada sampul media merupakan pintu masuk di kondisi ‘hiperealitas’. Di pintu itu, memang mata masih menjadi cara pertama untuk memulai ketertarikan (the first eyecatching), selanjutnya muka, hidung, telinga, kaki, tangan dan seluruh badan terhisap pada pesona yang dimanipulasi pada sampul tersebut. Dalam hal ‘eye catching’ benarlah pepatah dari era sekolah dasar yakni, dari ‘mata turun ke hati’. Begitu mata tertarik, maka hati juga terikat, lalu uang dan fantasi ikut serta tandem pula. Dari mata turun ke hati, haruslah hati-hati. ‘Eye catching’ merupakan ‘shortcut’ (jalan pintas) memasuki ‘hiperrealitas’, sehingga realitas sejati terkaburkan oleh ‘realitas buatan’ dan ‘realitas tiruan’. Dalam ‘hiperealitas’ yang nyaris selalu tak sehat, selalu melahirkan orang-orang sakit baru. Ada yang sakit hati karena tak bisa mengikuti mode baru yang ditawarkan model dalam sampul dan ada juga yang juga menjadi ‘hiperpsiko’ (seseorang yang sakit secara mental, yang melampuai batas kenormalan sehingga justru terlihat masih sehat). ‘Hiperrealitas’ serta merta menciptakan konsumen yang ‘hiperpsiko’, yang dimulai dari proses ‘eye catching’ pada sampul bening tersebut.
Health up Your English Now!
Untuk memperkuat tataran dasar kemampuan berbahasa Ingrris di era “Bontang Cerdas 2010”, secara partisipatif dibuka “English Club for Health Worker” di jajaran Dinas Kesehatan Bontang. Peserta tingkat elementer atau basic, akan diarahkan pada kursus untuk mengulang kembali pelajaran dasar dalam bahasa Inggris. Mereka yang ingin berdiskusi atau membahas tema tertentu, baik dalam tema kesehatan atau umum, juga akan difasilitasi dalam “Health up Your English Now”. Waktu pelaksanaan di adakan pada setiap hari Jumat, pukul 13.00 di Dinas Kesehatan Bontang. Formulir biodata akan dikirimkan ke setiap Puskemas dan Klinik Dokter Keluarga, untuk diisi sebagai persetujuan atas partisipasi pelaksanaan kursus tersebut. Anggota Pramuka Saka Bhakti Husada juga diharapkan menjadi partisipan aktif dalam program “Health up your English now!”
Kami merencanakan agar nanti setiap petugas kesehatan bisa memberikan presentasi dalam bahasa Inggris pada tema tertentu. Dengan demikian, akses wawasan dan ilmu pengetahuan makin terbuka di era “Bontang Cerdas 2010”. Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi pemilik email yang bertindak sebagai fasilitator yakni ostafalmustafa@yahoo.com dan kapa_kapasa@yahoo.com. Silahkan melakukan kontak dalam bahasa Inggris, sebagai persetujuan atas partisipasinya. Kontak dalam bahasa Inggris itu, juga akan kami jadikan sebagai dasar untuk menjadikan pengirim pesan (sender) sebagai sosok yang tampil dalam opening speech, keynote speak maupun closing speech. Selanjutnya tema-tema yang akan diulas dalam ‘English Meeeting’ akan dibahas dalam dalam email tersebut. Siknas online yang selalu macet, belum bisa termanfaatkan dalam program ini, namun itu tak boleh menghambat diskusi virtual versi bahasa Inggris tersebut.
Program partisipatif untuk peningkatan kemampuan berbahasa Inggris ini, sudah disetujui Kepala Dinas Kesehatan Bontang, dr. Hindar Jaya, Sp. OG. Partisipasi aktif setiap pegawai (PNS, CPNS, PTT dan Honerer) dan siapapun yang pekerjaannya berkaitan dengan masalah kesehatan di Bontang, memberi andil teramat besar untuk keberhasilan program “Health up your English now!” Setiap tambahan kosakata setiap hari Jumat tak akan melelahkan pikiran dan meletihkan otak. Tambahan kosakata dan juga wawasan kesehatan, tentu akan memperkaya kemampuan individu setiap pegawai/petugas di jajaran Dinas Kesehatan Bontang di era “Bontang Sehat 2008” hingga “Bontang Cerdas 2010”. Bukan hanya kesehatan fisik yang penting, tapi juga kesehatan berbahasa juga dibutuhkan sekarang ini!
Kutak suka gula ini
“Semangat 45”, dulu terlalu sering digembar-gombarkan dalam propaganda Orde Baru, sloganitas ‘old soldier’/’old crack’ (prajurit tua), dan semboyan para pemangku status quo selama 32 tahun. Kini istilah “semangat 45” sudah senyap dari pidato kenegaraan atau pidato para pejabat pada peringatan proklamasi ke 63. Kesenyapan sloganitas tersebut, seharusnya tak perlu hilang begitu saja, setidaknya bagi para penderita penyakit gula atau diabetes. Dua digit pada ‘45’, tak lagi merupakan suatu omong kosong warisan para penguasa “Orde Baru”. Di era kekuasaan SBY-JK yang “Orde Baru-Baru Ini”, semboyan “semangat 45”, masih memiliki relevansi pada peningkatan pengidap diabetes sebanyak dua ratus empat puluh enam juta orang dewasa di seluruh penduduk dunia (termasuk juga penduduk Indonesia, tentunya). Apakah slogan made in Indonesia berupa “semangat 45” sudah mengglobal atau berkualitas ekspor?
Memang terdapat hubungan antara “semangat 45” dengan ratusan juta orang dewasa tersebut pengidap diabetes. Michael Trenell dari Brittain Newcastle University beserta timnya, sebagaimana dalam laporan “Journal Diabetes Care” menyampaikan studi yang berhubungan dengan angka ‘45’. Dalam laporan yang juga diberitakan http://www.republika.co.id, Reuters Health dan http://www.gizi.net, disebutkan tentang keefektifan berjalan kaki selama 45 menit sehari. Olahraga ringan itu dapat membantu penderita diabetes menggunakan gula darahnya secara lebih baik. Studi tersebut didasarkan pada tes Magnetic Resonance Imaging (MRI), yang menunjukkan orang yang berjalan lebih dari 45 menit per hari dapat membakar sekitar 20% lemak. Olahraga dengan cara berjalan selama 45 menit meningkatkan kemampuan otot untuk menyimpan gula dalam darah dan mengontrol diabetes.
Cara memulai latihan tersebut teramat mudah yakni harus memiliki ‘semangat’ dan tentu saja harus berani ‘melangkahkah kaki pertama’ untuk memulainya. Pepatah menyebutkan, “Langkah ribuan kilometer, pastilah selalu dimulai dari langkah pertama” atau dalam versi lain disebutkan, “Thousands miles begin from the first walk”. Tak perlu menempuh ribuan kilometer untuk urusan “semangat 45” itu.Dalam latihan yang hanya berkisar 45 menit sehari, secara kumulatif hanya berjarak kurang dari dua kilometer saja! Jarak itu bisa ditempuh dalam 10.000 langkah. Cara berjalan selama 45 menit dilakukan biasa-biasa saja dan melangkah normal. Tak perlu berjalan mengikuti seruan aba-aba “langkah tegak maju, jalan” seperti para anggota Paskibraka yang sedang hormat bendera di perayaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Angka ‘45’ masih memiliki keajaiban tambahan pada penderita diabetes, khususnya pada cara penurunan berat badan. John Jakicic dari University of Pittsburgh, sebagaimana yang termuat pada Archives of Internal Medicine, menyebutkan tentang rekomendasi pada orang yang ingin menurunkan berat badan tanpa kembali pada berat semula. Ia merekomendasikan agar berlatih fisik minimal 4,5 jam per minggu. Latihan fisik selama 4,5 jam per minggu, termasuk urusan yang sangat ringan bagi orang yang suka berolahraga. Tips pertama yang terbaik pada penderita penyakit gula, yakni memotivasi diri berupa “Ku tak suka gula ini, mengapa kau tetap suka!”. Tips ini merupakan plesetan dari judul tembang Yovie & Nuno. Meskipun tak disarankan oleh Jakicic, tak mengapa bernyanyi mem-pleset-kan tembang tersebut, sambil berjalan kaki atau ber-jogging. Bila tak suka pada gula (maksudnya: penyakit gula), maka saran Michael Trenell dan John Jakicic, layak menjadi prioritas untuk dilaksnakan.
Berat badan yang berlebihan (obesitas) dan diabetes merupakan dua penyakit ‘kembar identik’ yang nyaris selalu jalan beriringan. Obesitas dan diabetes mengalami peningkatan signifikan atau paling banyak peningkatannya di negara-negara berkembang yang mengadopsi gaya hidup negara barat. Obesitas dapat meningkatkan jumlah penderita diabetes. International Diabetes Federation memperkirakan obesitas akan mendorong peningkatan angka penderita diabetes hingga tiga ratus delapan puluh juta orang pada tahun 2025. Pemerintah SBY-JK yang “Orde Baru-Baru Ini”, memang belum serius menanganani obesitas yang bisa berkaitan dengan diabetes. Masalah yang sering terlihat memprihatinkan sekarang, justru orang yang kurus kering karena malnutrisi (kurang gizi), diare, kurang makan maupun busung lapar. Bila seseorang mengalami obesitas, pemerintah Indonesia belum serius menanganinya. Gemuk masih secara mistis dianggap sebagai tanda kemakmuran dan sehat.
Berbeda dengan pemerintah Amerika Serikat, yang telah menjadikan obesitas sebagai masalah super-serius dalam ancaman terhadap kesehatan. Obesitas termasuk penyakit yang berkategori ‘the most wanted’’ oleh pemerintah federal. Pemerintah Amerika Serikat membuat program penurunan berat badan antara tahun 1999-2003. Dua ratus satu wanita yang mengalami kelebihan berat badan dibagi dalam empat grup dan dilibatkan pada program tersebut selama enam bulan. Program ini cukup berhasil, karena terjadi penurunan berat badan pada semua wanita sebesar 8%-10% dari berat sebelumnya. Sayangnya setelah enam bulan berlalu, mayoritas wanita itu kembali ke berat semula. Program penurunan berat badan oleh Pemerintah Amerika Serikat, gagal terlaksana selama empat tahun tersebut. Tak dijelaskan oleh Reuters Health, apakah mereka kembali pada ‘selera terbalik’ Yovie & Nuno yakni, “Kusuka gula ini, mengapa engkau tetap suka”. Dengan kembalinya berat badan pada tipe obesitas, maka semua wanita tersebut terancam kembali oleh serangan ‘penyakit gula’. Mereka telah kehilangan “semangat 45”, terjajah kembali oleh berat badan yang berlebih dan membiarkan tubuh dikolonialisasi oleh timbunan lemak.
TBC, mahalnya perpanjangan ‘kontrak hidup’ di dunia
Pernah berkeringat di waktu malam, dalam kondisi tubuh tak aktif bekerja dan bukan karena hawa malam yang menggerahkan di musim kemarau? Hati-hati choy, karena bisa menjadi salah satu pertanda buruk adanya serangan penyakit TB Paru. Bila pertanda buruk itu, ditambah pula dengan kurangnya nafsu makan, badan kurus dan batuk berdarah, maka sempurnalah penderitaan sebagai penyakit TB Paru. Beberapa tanda lain yang ikut membonceng dalam serangan penyakit itu yakni demam lebih dari sebulan, nyeri di dada, sesak napas, batuk-batuk selama dua hingga tiga minggu dan cepat lelah. Jika badan kurus bukan karena ‘patah hati’ atau melakukan diet ketat, maka itu berarti serangan TBC sudah menggeroti tubuh.
TBC yang disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis ini, termasuk bakteri yang suka pandang bulu terhadap siapa yang hendak dijangkitinya. Orang yang mudah ‘kerasukan’ bakteri patogen ini, sebagian besar tinggal di negara berkembang. Penyakit ini enggan menyerang orang-orang yang tinggal di negara maju, yang memiliki kualitas kesehatan secara prima. Penyakit ini lebih memilih penduduk di negara berkembang dengan sanitasi yang rendah, pemukiman yang padat seperti di dalam ‘kaleng ikan sarden’, gizi buruk, kondisi fisik lemah, memiliki penyakit tertentu, pecandu obat terlarang dan pengguna hormon steroid. Khusus sebagai pengguna hormon steroid, pastilah bukan orang yang berkategori miskin. Penyakit ini termasuk ‘peniru yang besar’ (great imitator and great pretender), karena beberapa gejala-gejalanya ada yang mirip dengan penyakit-penyakit dada dan penyakit yang memiliki gejala umum seperti kelelahan dan panas. Beberapa contoh ‘great imitate’ itu yakni batuk-batuk, sakit di dada, rasa lelah dan panas, yang berkaitan dengan ‘respiratory diseases‘ (penyakit-penyakit saluran pernapasan).
Delapan juta penduduk di seluruh dunia terkena infeksi TBC tiap tahun. Dua juta di antaranya berakhir tragis dengan ‘memejamkan mata untuk selama-lamanya’. Mereka hanya bisa meninggalkan ‘nama kosong’ yang tertera di batu nisan. Setiap hari rata-rata 425 nyawa terbang ke ‘dunia arwah’, akibat adanya serangan TBC. Dalam peringkat penderita TBC, Indonesia menempati juara ketiga di dunia, setelah India dan China. Penderita TBC di Indonesia bertambah 500. 000 ribu orang. Suatu jumlah yang fantastis karena masih berada dalam kisaran enam digit. Menurut Chris Walean, Wakil Ketua Koalisi untuk Indonesia Sehat, sebanyak 175.000 di antaranya meninggal dunia.
Setiap penyakit pasti memiliki pasangan abadi yang disebut pengobatan. TBC bisa disembuhkan, asal rajin berobat. Selama pengobatan selama enam bulan, penyakit ini bisa disembuhkan sebanyak 95 persen. Dengan prosentase kesembuhan sebanyak itu, ‘kontrak hidup di dunia’ masih bisa diperpanjang. Sayang sekali, biayanya cukup banyak untuk kalangan miskin, karena butuh 900. 000 rupiah. Orang miskin bisa ‘setengah mati’ untuk mendapatkan uang sebanyak itu, meskipun itu untuk sebuah ‘perpanjangan kontrak hidup’ di dunia.
Dari logika ekonomi, mahalnya pengobatan tersebut bisa menjadikan adanya generasi yang hilang (lost generation), karena adanya ‘kematian yang terpaksa’. Sebagian besar, para penderita termasuk usia produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian keluarga. Matinya para penderita di usia produktif menambah deret kuantitas jumlah penduduk miskin baru. Bukankah dengan matinya sang ‘tulang punggung keluarga’, maka beberapa orang telah kehilangan sebuah topangan utama kehidupan ekonomi? Kemiskinan dan penyakit TBC kemudian menjadi ‘mata rantai iblis’, yang ujung pangkalnya sama sekali tak ketahuan.
Di Bontang, penderita TBC akan bernasib lebih baik. Tak perlu mengeluarkan dana sebanyak 900. 000 rupiah untuk pengobatan penyakit mematikan tersebut. Uang sebanyak itu lebih baik untuk dipergunakan untuk keperluan keluarga yang lebih mendesak. Cara mudah untuk sembuh dari TBC dengan ongkos super-minimal yakni dengan mendatangi puskesmas terdekat. Dari sanalah pengobatan selama enam bulan akan didapatkan oleh sang penderita. Dengan ongkos super-minimal, ‘perpanjangan kontrak hidup dunia’ bisa didapatkan dalam kondisi segar bugar. Tak selalu butuh biaya mahal untuk sembuh dari suatu penyakit, bahkan juga dari TBC. Itulah realitas terbaik dari aplikasi ‘Bontang Sehat 2008‘ yang dilakukan Dinas Kesehatan Bontang, di bawah pimpinan dr. Hindar Jaya. Sp. OG.
Sekarang putaran imajiner dari ‘mata rantai iblis’ sudah bisa diputus. ‘Ketidak-bebasan finasial’ dan ‘ketidakberdayaan dalam keuangan’, bukanlah penghambat untuk sembuh dari penyakit. Di Bontang, tak ada lagi idiom “Orang miskin dilarang sakit”. Hampir tak ada diskriminasi kaya dan miskin dalam penanganan kesehatan dan pengobatan penyakit. Tak perlu cemas, bila suatu ketika berkeringat di waktu malam, karena penyakit TBC. Yakinlah, besok pagi anda tak perlu ‘berkeringat dingin’, hanya karena mendengar adanya tagihan mahal dalam pengobatan TBC. Dalam program ‘Bontang Sehat 2008‘, harga mahal tak perlu lagi disodorkan ke dompet penderita TBC.
Kusta, keajaiban untuk dijadikan pengharapan
Saman (nama samaran) mulanya memiliki bercak putih kecil di kulitnya. Lama kelamaan bercak itu membesar dan seolah-olah membentuk siluet pulau Kalimantan. Bercak itu sudah diolesi dengan berbagai produk obat penyakit panu, namun tak menghilang juga. Apa yang dianggapnya sebagai panu, ternyata berbeda dengan riwayat penyakit kulit yang pernah dialami sebelumnya. Rupanya, ia sudah akrab dan berpengalaman dengan penderitaan penyakit kulit ala panu. Dulu, bercak putih itu bisa dipunahkan hanya dalam beberapa minggu pengobatan. Kini bercak itu, tak hilang-hilang juga. Bagian kulit yang terdapat bercak itu, malah mati rasa. Tusukan jarum ataupun goresan dari cakar kukunya yang menghitam, sama sekali tak terasa. Kulit yang terserang kusta, sama sekali tak terasa gatal seperti panu dan tidak terasa sakit bila ditusuk sesuatu. Apa yang harus dilakukan seorang Saman dalam menghadapi hal tersebut?
Saman berada dalam ketidak-tahuan yang serius. Bercak atau lesi, yang mati rasa itu merupakan gejala dini penyakit kusta. Bila ia tak melakukan penghobatan secepatnya, beberapa bagian tubuhnya akan melumer, seperti plastik yang meleleh. Bagian tubuh, terutama jari jemari, memang tidak melumer dalam waktu cepat, namun akan terjadi secara perlahan-lahan. Kerusakan yang ditimbulkan pada kusta, terjadi pada kulit, anggota gerak, saraf-saraf dan mata. Kusta terbagi atas dua yakni kusta kering dan kusta basah. Saman dan sejumlah penderita baru, pastilah tak tahu menahu perbedaaan dari kedua jenis penyakit itu. Satu-satunya yang terpenting yakni bagaimana cara mengobatinya, tapi bagaimana caranya?
Kusta dinyatakan sebagai satu dari sembilan penyakit tropis, yang bersaing dengan cacingan, rabies, kaki gajah, frambusia dan sebagainya. Kusta merupakan penyakit kronis menyerang kulit, saraf tepi maupun jaringan tubuh lainnya. Penyakit kusta tersebar melalui hantaran udara. Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan kuman mycrobacterium leprae. Masa inkubasi atau masa terjadinya kusta berlangsung dalam beberapa minggu pada bayi muda atau juga cukup lama hingga 30 tahun. Rata-rata masa inkubasi kusta terjadi dalam waktu 3-5 tahun. Itu merupakan masa yang tak terlalu lama untuk mengalami penyakit merusak penampilan fisik tersebut selama-lamanya atau berakibat cacat seumur hidup. Penyakit ini banyak ditemukan di masyarakat miskin terutama di NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua, dan Irian Jaya Barat. Saman bisa saja berasal dari salah satu daerah tersebut.
Saman tidak sendirian dalam mengalami penyakit itu. Dalam Wikipedia disebutkan, terdapat dua atau tiga juta orang menderita kusta. Penderita terbanyak berasal dari negeri Bollywood yakni India, menyusul negeri ‘goyang samba’ Brasil. Peringkat ketiga diduduki oleh salah satu negara ASEAN yakni Myanmar.
Seperti apa lingkungan yang bisa membuat Saman menderita kusta? Lingkungan yang tidak bersih, tempat tidur yang tidak memadai, kurangnya air bersih, asupan gizi yang buruk dan adanya penyakit lain seperti HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Zaman telah mengalami penurunan sistim kekebalan tubuh, sehingga bercak putih ‘bukan panu’ berhasil menyerang kulitnya. Sebagai pria, Saman memang lebih rentan mengalami kusta. Pria lebih mudah terkena kusta dua kali lebih banyak daripada wanita.
Saman masih memiliki ‘waktu tambahan’ untuk menyembuhkan diri. Bila Saman warga Bontang, ia hanya perlu ke Puskesmas atau Klinik keluarga. Tak perlu risau dengan ongkos pengobatan, karena obatnya gratis. Selain itu, jika ia tercatat sebagai peserta Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), maka penyakit lain yang dideritanya, bisa juga mendapatkan pelayanan serba gratis. Saman, biarlah penyakit kusta hanya riwayat tempo dulu! Yang terpenting sekarang hanyalah rajin berobat. Selama ada obatnya, maka kesembuhan masih memiliki keajaiban untuk dijadikan pengharapan.
Jurnalisme ‘Humanistikesehatan’ untuk ‘Bontang Sehat 2008’
Berbeda dengan edisi pertama yang belum menerapkan satupun model jurnalisme untuk peliputan, maka untuk untuk edisi kali ini akan menerapkan satu pola “jurnalisme baru” untuk buletin ini. Ada dua model jurnalisme yang bagus untuk diterapkan yakni ‘Jurnalisme Sastra’ dan jurnalistik ‘Jurnalisme Humanistik’. ‘Jurnalisme Sastra’ ditujukan pada cara penulisan yang sastrawi, sehingga anda bisa membaca buletin seperti menikmati suatu karya sastra. ‘Jurnalisme Humanistik’ diterapkan dengan menomor-satukan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan apapun. Sisi ‘human interest’ menjadi bagian terunggul dalam interest (kepentingan) media ini, atau lebih tepatnya ’healthy human interest’ (kepentingan terhadap kesehatan manusia). Lalu apa kecenderungan utama dalam pilihan jurnalisme buletin ini? Sesuai dengan kepentingan internal dan eksternal instansi Dinas Kesehatan Bontang, yang menaungi keberadaan penerbitan ini, maka pilihan jurnalisme ada pada dua sisi yakni ‘humanistik’ (bertujuan pada pemihakan kemanusian) dan ‘kesehatan’. Dua sisi itulah yang kemudian yang menyatukan pola penyajian pemberitaan dalam format jurnalisme ‘Humanistikesehatan’.
Untuk itu, dalam beberapa minggu ke depan akan kami susun suatu vademekum (buku kecil untuk penuntun) tentang cara penulisan dan pemberitaan yang dilakukan awak redaksi dan reporter. Bagi redaksi atau reporter yang belum pernah mengakrabi dunia kepenulisan dan jurnalistik, vademekum tersebut merupakan suatu tips mudah untuk menjalani dunia jurnalistik dan pers. Learning by doing (belajar sambil bekerja) akan memudahkan aplikasi dari petunjuk singkat dalam vademekum tersebut.
Dalam edisi dua ini, akan muncul juga figur “Dinkessst” dalam bentuk karikatur, yang akan menyuarakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan di Bontang. Kami juga akan mengusahakan secara bertahap, agar semua tulisan di buletin ini merupakan produksi sendiri, bukan mencaplok secara penuh dari media lain. Dengan semua kebaruan dan pembaruan dalam edisi dua ini, maka pembaca bisa membaca sisi lain dari program “Bontang Sehat 2008”.
Salam sehat dari kami
Redaksi Media Husada
-
Terkini
- PARTISIPASI TERBUKA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMUNITAS Dalam ‘HEALTH UP YOUR ENGLISH’
- Ambulans masuk ruang sekret
- ‘Bahasa yang sakit’ belakang punggung
- Dari makanan basi dan hingga basa basi
- Desain kaos, tanpa disain apapun
- Dokter Andi Anwar, dokter sekret menembus barikade hujan
- ‘Kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di sekret
- ‘Mendayung bersama’ sebelum ‘layar terkembang’
- Pawang hujan ternyata juga basah kuyup
- Perburuan makanan basi 02.00 dini hari
- Pimpinan tanpa ‘remote control’
- Riwayat pembuatan ID Card
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (25)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS