mediahusadabontang

Just another WordPress.com weblog

Dari makanan basi dan hingga basa basi

“Isi hati lelaki, seringkali berkaitan dengan isi perutnya!”, demikian tips utama yang harus dilakukan seorang istri untuk mencegah suaminya jajan di luar. Jika berkaitan dengan isi perut, maka janganlah suami diberi makanan basi. ‘Nasi kemarin’, yang kemudian dibuat menjadi nasi goreng, haruslah dipastikan jangan menjadi ‘nasi basi yang kemarin’. Bila ada bagian yang basi dalam penyajian makanan, biarlah berupa basa-basi, bukan makanan basi. Tentu saja urusan makanan basi hingga basi-basi, lazim terjadi dalam rumah-tangga. Sosok yang paling memahami kedua hal ‘basi’ tersebut dalam lingkup domestik itu, seringkali dibebankan kepada perempuan. Bagaimana bila insiden makanan basi terjadi dalam dunia profesional, jauh di luar urusan domestik rumah tangga? Apa yang harus dilakukan para profesional di bidang gizi ketika harus berhadapan dengan ‘dunia perut’ dan ‘dunia rasa’ para atlet PON XVII? Bukan suatu kebetulan bila para profesional di bidang pengawasan gizi, ternyata semua perempuan.

Dalam PON XVII, terdapat empat belas petugas gizi yang semuanya serba perempuan. Memang semuanya perempuan, tapi tak ada diskriminasi gender dan orientasi seksis dalam penugasan mereka. Mereka harus mengawasi segala hal yang berkaitan dengan kuliner, tanpa membedakan jenis kelamin para atlet dan ofisial. Dalam profesionalisme pengawasan gizi, memang tak ada batasan gender. Mereka harus mengawasi seribu tiga ratus tiga puluh sembilan orang di 17 titik pengawasan. Titik-titik pengawasan tersebut terdiri atas sebuah wisma, 15 hotel plus satu rumah. Wisma Atlet KM 3 Lok Tuan berada di posisi teratas dalam jumlah, karena ditempati enam ratus duabelas orang. Hotel Kutai Indah menempati urutan terbawah dalam hal jumlah hunian. Hotel tersebut dihuni sebanyak lima belas orang. Pengawasan gizi dilaksanakan ketika wajah matahari belum nampak di arah timur kota Bontang sekitar pukul 05.00 hingga selesai seluruh prosesi makan malam pada pukul 23.00.

Dalam rentetan waktu pengawasan gizi tersebut, muncullah ‘insiden kuliner’ berupa nasi kotak yang basi dan juga sajian prasmanan yang ditolak atlet. ‘Insiden kuliner’ terjadi di Wisma Atlet, ketika puluhan nasi kotak tidak direkomendasikan oleh petugas gizi untuk disantap para atlet. Pembasian itu, dimungkinkan terjadi karena makanan terlambat dikonsumsi para atlet. Pembasian secara normal berkaitan dengan cara pemilihan bahan mental, pengolahan, penyajian dan distribusi. Pembasian dalam konteks ‘insiden kuliner’ di Wisma Atlet Loktuan tentu saja merupakan human error, yang bisa dilacak asal muasal ke-error-annya.

Masalah makanan basi, sama sekali tidak bisa dituntaskan dengan basi-basi, sebagaimana dalam lingkup domestik rumahtangga. Tak ada basa-basi bila berkaitan dengan makanan basi para atlet. Tentu saja perlu adanya sikap tegas, tanpa kompromi dan meminimalkan toleransi untuk meloloskan makanan basi ke perut atlet. Sikap ini ditunjukkan oleh Hurriyani, SKM (Kasie Pengawasan dan Menu), sehingga puluhan nasi kotak yang dinyatakan expired (kadaluarsa) hanya menjadi asesoris di meja makan. Ketegasan dalam sikap profesionalisme sebagai ahli gizi, terjadi pada ‘insiden kuliner’ tersebut.

Ada juga anomali yang terjadi dalam ‘insiden kuliner’ tersebut, ketika serombongan atlet lelaki dari Riau, nekat mengambil paket nasi dos yang telah dinyatakan kadaluarsa. “Nggak apa-apa Bu!. Asal nggak mati aja!” ujar seorang atlet yang kemudian mengambil dua kantong besar berisi paket nasi kotak yang serba mencurigakan nilai gizinya. Mereka teramat berani menyantap nasi kotak kadaluarsa itu. Kasie Pengawasan dan Menu, tak bisa menolak hasrat makan para atlet tersebut. Mereka memang terlihat teramat lapar seusai pertandingan. Tentu saja, para atlet Riau itu benar, karena tak ada seorangpun mereka yang mati. Tak ada yang sakit sehubungan dengan ‘insiden kuliner’ malam itu. Jika saja ada yang jatuh sakit, karena nekat menyantap ‘makanan kadaluarsa’, mereka pasti ada yang ‘mati kutu’. Tak ada yang mati, tidak juga pada kutu!

‘Insiden kuliner’ tingkat tinggi terjadi Wisma Atlet Loktuan, ketika ofisial DKI menolak sajian prasmanan yang dicurigai menggunakan bahan makanan yang kadaluarsa (11/07/08, pukul 19.00 WITA). Insiden ini berlanjut ketika dua petugas ‘Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit’ yakni Marlina dan St. Sufiaty, SKM turun tangan mencari sumber pangan yang kadaluarsa itu. Pencarian sumber bahan makanan yang kadaluarsa berlangsung hingga 02.00 dini hari. Sampel bahan pangan, berupa ikan dan ayam yang diduga kadaluarsa tersebut kemudian dijadikan bukti untuk investigasi lebih lanjut. Ahmad Tale Haidar (Kasie Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit) bersama Marlina mendatangi Dinas Peternakan untuk memastikan secara fisik tingkat keamanan bahan pangan tersebut.

‘Insiden kuliner’ lanjutan tak terjadi lagi pasca 11 Juli 2008. Para pengusaha catering sudah tak berani lagi ‘main-main’ dengan urusan perut atlet. Kesembronoan menggunakan bahan makanan yang kadaluarsa atau yang tak memenuhi standar kesehatan, bisa menjadi bumerang pada kelanjutan usaha mereka sendiri. Para pengusaha tersebut, kemudian ikut turun langsung ke Wisma Atlet Loktuan untuk melihat sendiri kondisi ril pada sajian prasmanan. Urusan perut, bukan hanya di kalangan domestik rumah tangga, tapi juga pada dunia profesionalisme atlet. Isi hati atlet, mungkin tak berkaitan dengan isi perut, karena ada yang berani makanan nasi kota kadaluarsa. Seharusnya malam itu mereka bisa menolak makanan kadaluarsa itu, sebab masih ada cara lain untuk keluar dari rasa lapar yakni jajan. Tak ada waktu untuk jajan dan tiada alternatif untuk pengganti nasi kotak, sehingga makanan yang basi disantap tanpa opsi apapun.

September 13, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.