mediahusadabontang

Just another WordPress.com weblog

Ambulans masuk ruang sekret

Ruang sekret tampil beda, bukan hanya oleh pajangan daftar jadwal jaga dan jadwal pertandingan dari program excel, tapi oleh illustrasi mobil-mobil ambulans oleh Pak Agung. Sebagai sarjana psikologi, Pak Agung berhasil memainkan minat untuk melihat dan menyaksikan pajangan-pajanghan berbagai model ambulans secara karikaturistik. Illustrasi karikaturistik tersebut berhasil dalam ‘eye catching’ (memikat pandangan mata). Ilustrasi kreatif memicu hasrat mata untuk melihat secara mendetail berbagai penugasan sopir ambulans, jenis mobil apa, ditugaskan di mana dan kapan ditugaskan. Semua detail yang berkaitan dengan ambulans bisa dilihat hanya dengan sekali kedipan mata. Bandingkan dengan pembacaan jadwal versi excel yang bisa membuat mata kelilipan, karena yang dilihat semua berupa kolom dan lajur yang berlapis-lapis. Seandainya apa yang dilakukan Pak Agung dengan ilustrasinya dapat diterapkan di sekolah, maka murid-murid pasti cepat mengerti. Semua sopir ambulans dan petugas sekret, sangat mudah mengerti apa yang dipajang dalam ilustrasi.

Untuk memahami apa yang dipahami jadwal tugas ambulans dalam versi ilustrasi hanya perlu waktu sekitar lima detik. Jadwal tugas yang dibuat dalam format excel perlu waktu beberapa menit untuk memahaminya secara tepat. Bujur dan kolom excel bisa mengelabui mata yang tak awas. Hasil olahan komputer, jauh lebih ribet daripada ilustrasi Pak Agung. Komputer tak selamanya membuat hidup jauh lebih simpel dan mudah, malah terkadang bikin repot juga. Kreatifitas individu secara langsung terkadang jauh lebih berisi dan bermakna daripada hasil produk komputer. Sesekali bebaskan hidup dari ketergantungan pada Windows Microsoft because it’s windowsucks!

Pekerjaan menempel jadwal cabor dan jadwal jaga di dinding dilakukan oleh Upik (Taufik Hidayat) dan beberapa petugas sekret yang enggan disebut namanya.Tempelannya cukup rapi dan menjadi asesoris penambah lengkap tempelan di dinding. Memang perlu mendongak agar bisa membacanya secara penuh. Leher bisa pegal bila terlalu mencermati setiap isi jadwal, dalam posisi mendongak. Mata gampang capek bila membaca seperti itu. Bagi yang enggan terlalu lama mendongak tempelan di dinding dan tak mau capek-capek, masih ada ‘shorcut’ (jalan pintas) yakni cukup berkata pada petugas sekret, “Tolong jadwal di-print-kan!” Jadwal yang telah di-print bisa dimasukkan ke dalam tas dan dibaca dalam posisi apa saja, tanpa perlu mendongak. Jika ada yang memasang jadwal tersebut di tempat lain, setinggi tempelan di sekret, maka tentu harus mendongak lagi. Capek dech!

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

‘Bahasa yang sakit’ belakang punggung

Baju yang didisain cukup atraktif dan warna meriah (ungu) diterima petugas LO (Liason Officer). Satu-satunya yang salah pada baju yang disablon ‘sok British’ yakni penulisan kepanjangan dari LO yang ditulis dengan sangat salah yakni ‘Liaison Officer’. Andai saja LO tersebut menghadapi atlet asing, maka mereka semua ‘sudah gagal dalam tugas’, justru sebelum mereka bertugas. Bila kepanjangan LO sudah salah, maka hal lain mungkin juga salah. Sebenarnya, LO (Liason Officer) sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yakni ‘Petugas Penghubung’, namun karena karena terjangkiti penyakit ‘sok British.exe’, maka munculnya bahasa Inggris yang salah. Mereka kemudian tahu tentang kesalahan ‘sok British’ itu, maka disablonlah baju dengan tulisan yang benar, yakni ‘Liason Officer’. Sekarang ada yang perlu dipertanyakan, apakah petugas LO yang ‘Liaison Officer’ dan ‘Liason Officer’ beda pula tugasnya?

‘Sok British’ yang ‘serba salah berbahasa’, bukan hanya pada baju seragam LO. Pada “Buku Saku Bidang Kesehatan”, kesalahan ‘sok British’ juga ada. Pada buku tersebut terdapat kosa kata dalam bahasa Inggris dan ‘sok British’. Buku saku itu memang cukup muntah-muntah dengan bahasa campur baur dan tidak pada tempatnya. Kosa kata berbahasa Inggris itu antara lain mobile, ID Card, official, technical delegate, emergency, Medical Room, Medical Center, welcome party dan venues. Penggunaan bahasa Inggris dilakukan secara tidak sehat, karena sebenarnya sudah terdapat istilah yang sama dalam bahasa Indonesia. Mengapa harus serba Inggris dalam PON XVII, yang penontonnya bukan turis asing? Penggunaan kosa kata ‘sok British’ bisa dilihat pada kosakata ‘Medical Wisma’. Dua kata tersebut menggunakan campuran antara bahasa Inggris (baca: medical) dan bahasa Indonesia serapan dari bahasa Sansekerta (baca: wisma). Di tengah penyehatan para atlet, tanpa disadari ada suatu penggunaan ‘bahasa yang sakit’, karena teramat ‘sok British’. Bila ‘bahasa yang sakit’ digunakan oleh pihak LO, mungkin tak mengapa! Bila ‘bahasa yang sakit’ digunakan secara resmi oleh Bidang Kesehatan PON XVII, maka siapa lagi yang benar-benar sehat di PON XVII?

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Dari makanan basi dan hingga basa basi

“Isi hati lelaki, seringkali berkaitan dengan isi perutnya!”, demikian tips utama yang harus dilakukan seorang istri untuk mencegah suaminya jajan di luar. Jika berkaitan dengan isi perut, maka janganlah suami diberi makanan basi. ‘Nasi kemarin’, yang kemudian dibuat menjadi nasi goreng, haruslah dipastikan jangan menjadi ‘nasi basi yang kemarin’. Bila ada bagian yang basi dalam penyajian makanan, biarlah berupa basa-basi, bukan makanan basi. Tentu saja urusan makanan basi hingga basi-basi, lazim terjadi dalam rumah-tangga. Sosok yang paling memahami kedua hal ‘basi’ tersebut dalam lingkup domestik itu, seringkali dibebankan kepada perempuan. Bagaimana bila insiden makanan basi terjadi dalam dunia profesional, jauh di luar urusan domestik rumah tangga? Apa yang harus dilakukan para profesional di bidang gizi ketika harus berhadapan dengan ‘dunia perut’ dan ‘dunia rasa’ para atlet PON XVII? Bukan suatu kebetulan bila para profesional di bidang pengawasan gizi, ternyata semua perempuan.

Dalam PON XVII, terdapat empat belas petugas gizi yang semuanya serba perempuan. Memang semuanya perempuan, tapi tak ada diskriminasi gender dan orientasi seksis dalam penugasan mereka. Mereka harus mengawasi segala hal yang berkaitan dengan kuliner, tanpa membedakan jenis kelamin para atlet dan ofisial. Dalam profesionalisme pengawasan gizi, memang tak ada batasan gender. Mereka harus mengawasi seribu tiga ratus tiga puluh sembilan orang di 17 titik pengawasan. Titik-titik pengawasan tersebut terdiri atas sebuah wisma, 15 hotel plus satu rumah. Wisma Atlet KM 3 Lok Tuan berada di posisi teratas dalam jumlah, karena ditempati enam ratus duabelas orang. Hotel Kutai Indah menempati urutan terbawah dalam hal jumlah hunian. Hotel tersebut dihuni sebanyak lima belas orang. Pengawasan gizi dilaksanakan ketika wajah matahari belum nampak di arah timur kota Bontang sekitar pukul 05.00 hingga selesai seluruh prosesi makan malam pada pukul 23.00.

Dalam rentetan waktu pengawasan gizi tersebut, muncullah ‘insiden kuliner’ berupa nasi kotak yang basi dan juga sajian prasmanan yang ditolak atlet. ‘Insiden kuliner’ terjadi di Wisma Atlet, ketika puluhan nasi kotak tidak direkomendasikan oleh petugas gizi untuk disantap para atlet. Pembasian itu, dimungkinkan terjadi karena makanan terlambat dikonsumsi para atlet. Pembasian secara normal berkaitan dengan cara pemilihan bahan mental, pengolahan, penyajian dan distribusi. Pembasian dalam konteks ‘insiden kuliner’ di Wisma Atlet Loktuan tentu saja merupakan human error, yang bisa dilacak asal muasal ke-error-annya.

Masalah makanan basi, sama sekali tidak bisa dituntaskan dengan basi-basi, sebagaimana dalam lingkup domestik rumahtangga. Tak ada basa-basi bila berkaitan dengan makanan basi para atlet. Tentu saja perlu adanya sikap tegas, tanpa kompromi dan meminimalkan toleransi untuk meloloskan makanan basi ke perut atlet. Sikap ini ditunjukkan oleh Hurriyani, SKM (Kasie Pengawasan dan Menu), sehingga puluhan nasi kotak yang dinyatakan expired (kadaluarsa) hanya menjadi asesoris di meja makan. Ketegasan dalam sikap profesionalisme sebagai ahli gizi, terjadi pada ‘insiden kuliner’ tersebut.

Ada juga anomali yang terjadi dalam ‘insiden kuliner’ tersebut, ketika serombongan atlet lelaki dari Riau, nekat mengambil paket nasi dos yang telah dinyatakan kadaluarsa. “Nggak apa-apa Bu!. Asal nggak mati aja!” ujar seorang atlet yang kemudian mengambil dua kantong besar berisi paket nasi kotak yang serba mencurigakan nilai gizinya. Mereka teramat berani menyantap nasi kotak kadaluarsa itu. Kasie Pengawasan dan Menu, tak bisa menolak hasrat makan para atlet tersebut. Mereka memang terlihat teramat lapar seusai pertandingan. Tentu saja, para atlet Riau itu benar, karena tak ada seorangpun mereka yang mati. Tak ada yang sakit sehubungan dengan ‘insiden kuliner’ malam itu. Jika saja ada yang jatuh sakit, karena nekat menyantap ‘makanan kadaluarsa’, mereka pasti ada yang ‘mati kutu’. Tak ada yang mati, tidak juga pada kutu!

‘Insiden kuliner’ tingkat tinggi terjadi Wisma Atlet Loktuan, ketika ofisial DKI menolak sajian prasmanan yang dicurigai menggunakan bahan makanan yang kadaluarsa (11/07/08, pukul 19.00 WITA). Insiden ini berlanjut ketika dua petugas ‘Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit’ yakni Marlina dan St. Sufiaty, SKM turun tangan mencari sumber pangan yang kadaluarsa itu. Pencarian sumber bahan makanan yang kadaluarsa berlangsung hingga 02.00 dini hari. Sampel bahan pangan, berupa ikan dan ayam yang diduga kadaluarsa tersebut kemudian dijadikan bukti untuk investigasi lebih lanjut. Ahmad Tale Haidar (Kasie Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit) bersama Marlina mendatangi Dinas Peternakan untuk memastikan secara fisik tingkat keamanan bahan pangan tersebut.

‘Insiden kuliner’ lanjutan tak terjadi lagi pasca 11 Juli 2008. Para pengusaha catering sudah tak berani lagi ‘main-main’ dengan urusan perut atlet. Kesembronoan menggunakan bahan makanan yang kadaluarsa atau yang tak memenuhi standar kesehatan, bisa menjadi bumerang pada kelanjutan usaha mereka sendiri. Para pengusaha tersebut, kemudian ikut turun langsung ke Wisma Atlet Loktuan untuk melihat sendiri kondisi ril pada sajian prasmanan. Urusan perut, bukan hanya di kalangan domestik rumah tangga, tapi juga pada dunia profesionalisme atlet. Isi hati atlet, mungkin tak berkaitan dengan isi perut, karena ada yang berani makanan nasi kota kadaluarsa. Seharusnya malam itu mereka bisa menolak makanan kadaluarsa itu, sebab masih ada cara lain untuk keluar dari rasa lapar yakni jajan. Tak ada waktu untuk jajan dan tiada alternatif untuk pengganti nasi kotak, sehingga makanan yang basi disantap tanpa opsi apapun.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Desain kaos, tanpa disain apapun

Aturan baku pertama yang harus dipatuhi oleh semua yang mendapat jatah pembagian gratis, yakni “Terimalah dan tak perlu menggerutu!”. “Selama gerutuan tak berat diongkos, dan gratis, maka sebaiknya menggerutulah”, itu aturan baku yang kedua. Dengan menggunakan aturan baku yang kedua itulah, maka ‘wacana gerutuan’ ini pun ditulis. Gerutuan itu dimulai ceritanya pada baju kaos yang diterima petugas sekret dan tim medis/paramedis. Desain baju terburuk pada baju kaos gratis dipakai oleh petugas sekret dan tim medis/paramedis. Selain tanpa disain, kualitas kaos juga yang sangat rendah. Petugas sekret menerima baju berwarna hijau tua, sedangkan tim medis/paramedis mendapat kaos warna merah. Kaos itu sepertinya didisain tanpa ‘disain apapun’.

Memang semua yang gratis, harus seperti itu yakni selalu tanpa disain. Bukankah disain selalu punya harga, padahal yang hendak dibagikan hanya gratisan! Jadi untuk apa didisain? Dengan sebuah sablon buram bergambar logo PON XVII di bagian kantong, maka makin lengkaplah disain ‘tanpa disain’ itu. Baju gratis tersebut, tak diterima oleh setiap orang di sekret. Satu-satunya bagian yang berharga dari kaos itu, karena tak semua orang di sekret memilikinya. Kaos gratis itu diproduksi dengan budjet yang minim, sehingga jumlahnya tak mencukupi dan berkualitas rendah.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Dokter Andi Anwar, dokter sekret menembus barikade hujan

Sepatu Dokter Andi Anwar, selalu saja basah oleh lelehan air AC. “Hari ini sudah ada jadwal volly?” begitu pertanyaan standar yang diajukannya bila bertandang ke sekret setiap sore. “Belum ada, dok! Tapi sudah dihubungi via email!” Tak ada jadwal yang bisa diperoleh dari pihak penanggung-jawab cabor bersangkutan, meskipun hari- hari pertandingan semakin dekat. Jadwal terbang layang, sepakbola, tennis meja dan takraw juga tak bisa diperoleh dengan cepat. Keterlambatan perolehan jadwal dari cabor-cabor tersebut, juga memperlambat kerja lainnya seperti penyusunan jadwal jaga

tim medis, daftar obat dan sebagainya. Situs resmi www. Pon2008.com hanya memberikan jadwal cabor secara umum. Jadwal percabor sama sekali tak ada dalam situs tersebut.

Dokter Anwar, setiap sore datang ke sekret memastikan adanya jadwal atau juga memberikan daftar para dokter yang siap terlibat dalam kegiatan nasional tersebut. Jadwal pertama yang bisa diperoleh lewat email yakni dari cabor volly. Jadwal yang sering dijanji-janji untuk diberikan ke sekret, namun tak pernah ada yakni dari cabor takraw. Beberapa kali kontak pertelepon dilakukan terhadap panpel cabor ini, namun janji tetaplah janji. Beberapa keterlambatan dalam pekerjaan kesekretariatan maupun penyusunan tim jaga venues yang dilakukan dokter Anwar, karena jadwal yang diperoleh, sangat terlambat. Mas Pardi (Supardi), Mbak Upi (St. Sufiati, SKM), Bu Diana (Diana Nurhayati, Amd. Keb. Sekretaris PB ), Zul, Mbak Indra (Indrawati, bagian Administrasi & Asuransi) dan Mas Alif (Sinar Alif Mulyadi, koordinator sekretariat) terlibat keras dalam pencarian jadwal tersebut. Entah apa yang dikerjakan para petugas cabor, hingga jadwal terlalu telat untuk disusun.

Keterlambatan pihak sekret mendapatkan jadwal cabor, karena memang panitia cabor bersangkutan memang tidak siap bergerak cepat menyusun jadwal. Sebenarnya, pekerjaan menyusun jadwal teramat mudah, hanya diperlukan koordinasi dengan beberapa pihak yang berkaitan dengan lokasi venues (tempat-tempat pertandingan).

Air dari AC masih terus menetes, sedangkan hujan bulan Juli juga tak berhenti meneteskan butir-butir air dari lengkungan awan. Dari balik siraman hujan di suatu sore, dokter Anwar kembali mengajukan pertanyaan,

“Jadwal sudah ada ya?”

“Jadwal sudah ada dok, tapi tidak ada kopiannya!”

“Itu saja, nanti saya scan!” Di luar hujan mulai sedikit berkurang, tapi masih bisa membuat baju basah kuyup hanya dalam lima belas langkah. Dokter Anwar mengambil jadwal yang sudah ada, lalu menembus barikade dinding air menuju kantor Jamkesos. Disana sudah ada Mas Andre (Andreas Kurniawan), yang diharapkan bisa memperbanyak jadwal dengan scanner.

Setiap sore, sepulang kerja dari RSUD, dokter Anwar pasti selalu datang ke sekret. Ia dokter sekret paling tersibuk dalam segala hal. Ia mampu bekerja di sekret, ketika lampu masih menyala, sama baiknya ketika lampu PLN byarpet alias mati lampu. Ia menyusun daftar jaga, menata dokumen ID card dalam ruang sekret yang temaram, karena lampu yang padam. Hanya dengan dengan sisa cahaya matahari yang masih tersisa di ujung sore, sang dokter sekret tersebut, mampu menyelesaikan penataan dokumen secara baik. Setelah semuanya dikumpulkan dalam satu kumpulan berkas, ia pun pamit. “Esok saya kembali! Begitu janjinya. Ia pun melangkahkan kaki dari ruang sekret yang buram dan temaram.

Ada jejak basah dari kedua tapak sepatunya. Mungkin itu bagian dari tetesan air AC yang berpadu dengan air dari langit. Saat menembus barikade dinding air hujan, memang sepatunya agak basah. Ia pulang sore itu, kembali ke RSUD. Janjinya untuk kembali ke sekret keesokan harinya, dititipkan pada penjaga sekret. Sebenarnya tanpa titipan janji pun, dokter Anwar pasti kembali ke ruang berair dan ‘tempat basah’ itu. Ia akan kembali kesini, selalu demikian rutinitas di setiap sore.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

‘Kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di sekret

Bila jadwal jaga di medical center RSUD, medical wisma di Loktuan dan medical room di Klinik PNS menggunakan shift, maka tidak demikian halnya di sekret. Disini petugas sekret bekerja tanpa shift dan menyalahi durasi kerja yang telah ditetapkan International Labour Organisation (ILO) atau Organisasi Buruh Sedunia. Standar waktu kerja yang ditetapakan ILO dan sejumlah serikat buruh di Indonesia maksimal 8 jam. Standar waktu kerja itu tak berlaku selama pelaksanaan PON XVII. Ada yang bekerja di sekret mulai dari ¼ shift, ½ shift, 1 shift, 2 shift hingga 3 shift. Petugas yang berada di sekret selama 3 shift, tentu saja menjalankan ‘kehidupan pagi’ hingga ‘kehidupan malam’ di tempat yang sama. Para petugas itu malah menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari, juga dari jendela yang sama. Sekret hanya berjendela satu, itu satu-satunya tempat melongok dunia luar selama 3 shift tersebut. Jendela satu-satunya itu, sering ditetesi air bocoran AC yang jatuh ke kepala. Melihat matahari pagi dengan kepala yang basah, itulah permulaan dari ‘kehidupan pagi’ di sekret.

‘Kehidupan siang’ berlanjut dengan pengantaran paket makanan siang. Makan siang harus tiba tepat pada pukul 11.00, karena bila terlambat maka bisa menjadi masalah yang sensitif. Persoalan perut memang sangat sensitif, karena keterlambatan ½ jam, selalu saja diikuti suara ‘minta makan’ melalui HT. Sebenarnya yang sering terlambat makan, justru pihak sekret yang bertugas mengambil dan mendistribusikan makanan. Merekalah yang paling terakhir menikmati makan siang. Ketika semua orang sudah kenyang, mereka malah baru mulai meniatkan doa makan.

‘Kehidupan malam’ di mulai ketika ayam mulai rabun penglihatannya sekitar pukul 19.00. Tak semua ayam-ayam itu, masih bisa melihat kandangnya, karena ada yang telah menjadi bagian lauk dari paket makan malam. Kehidupan malam telah berjalan ketika paket makan malam telah dinikmati oleh semua pihak yang bertugas di medical centre, medical room dan medical wisma. Tentu saja, pada setiap episode kehidupan malam itu, tugas di sekret bukannya makin berkurang. Pada tengah malam, data-data yang diterima dari surveilan harus di-entry lagi, agar besok secara lengkap bisa terkirim ke Dinas Kesehatan Kaltim. Kesibukan tak menyusut di waktu malam, sebab persiapan kerja untuk menyambut pekerjaan keesokan harinya ditata secermat mungkin di ‘kehidupan malam’ tersebut.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

‘Mendayung bersama’ sebelum ‘layar terkembang’

Layar permainan olahraga PON XVII yang berlangsung di Bontang, tidak hanya terkembang sejak awal upacara pembukaan (6/0708). Aktivitas ‘bessai berinta’ (mendayung bersama) untuk kesuksesan PON XVII Bidang Kesehatan, telah dimulai ‘jauh-jauh hari’ bahkan ‘jauh-jauh bulan’ sebelumnya. Hitungan mundur menuju kesiapan pelaksanaan PON XVII telah dimulai pada bulan April dan menukik tajam di bulan Mei. Sejumlah aktivitas untuk penyuksesan PON tersebut, secara umum telah semakin diperkuat sebulan sebelum pembukaan PON.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, dr.Hindar Jaya, Sp.OG menjabat sebagai Ketua Bidang Kesehatan Sub PB PON XVII 2008. Dr.Hindar Jaya, Sp.OG mengintruksikan agar seluruh pihak yang berkaitan dengan bidang kesehatan berpartisipasi langsung dengan kegiatan nasional tersebut. Instruksi itu secara resmi dibuktikan dengan adanya SK Pengurus Bidang Kesehatan Sub PON XVII. Sebelum dan selama masa pelaksanaan PON tersebut, dr.Hindar Jaya, Sp.OG langsung melakukan peninjauan ke lokasi venues. Lokasi tersebut, merupakan tempat interaksi langsung antara petugas kesehatan dengan atlet, terutama pada saat pertandingan.

Ketersediaan beberapa peralatan dan obat-obatan juga diawasi secara langsung sebelum didistribusikan ke medical room dan medical wisma. Gudang Dinkes di lantai satu, menjadi sasaran perhatiannya untuk memastikan ketersediaan beberapa alat kesehatan. Sejumlah peralatan yang sebelumnya, belum pernah digunakan sama sekali, kemudian ‘keluar gudang’. Aktivitas ‘cuci gudang’ berupa pengeluaran semua peralatan yang dapat dipergunakan untuk PON, juga bagian dari keterlibatan dr.Hindar Jaya, Sp.OG. Kunjungan siang dan malam secara kontinyu dilakukan pula ke sekretariat (selanjutnya ditulis sekret). Ban bocor pada ambulans, bahkan juga menjadi bagian dari detail dari titik perhatiannya. Tak ada yang lolos dari ‘mata elangnya’, termasuk juga memberikan obat pada Nanang dan Mujiatman, petugas kebersihan Dinkes Bontang. Keduanya menderita sakit pada masa kepanitian tersebut.

Hierarki kedua pada kepanitiaan di perhelatan besar tersebut dipegang secara ex-officio oleh dr. I Gusti Suardika, sebagai Wakil Ketua I. Ia saat ini menjabat sebagai Kepala RSUD Kota Bontang. Pada PON XVII, RSUD Kota Bontang menjadi rumah sakit rujukan. Hierarki ketiga dipegang oleh Syahrun Rangkuti, Kabid Yankes (Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan) Dinkes Bontang. Sejumlah personil bidang Yankes, memegang peranan utama selama kepanitiaan PON. Secara khusus, kepanitiaan yang terkait dengan PON memang berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang dibidangi Syahrun Rangkuti. Pelayanan kesehatan tersebut diantaranya mempersiapkan lingkungan yang sehat; makanan dan minuman yang hiegienis yang sesuai standar; dan menanggulangi terjadinya berbagai penyakit, cidera dan kecelakaan akibat olaharga dan kecelakaan lainnya. Selanjutnya, kepanitiaan secara langsung ditangani Diana Nurhayati, Amd. Kep, sebagai Sekretaris. Seluruh aktivitas kepanitiaan, berjalan di bawah arahan perempuan kelahiran Bali, 3 September 1962 tersebut. Perempuan yang masih terlihat ‘forever young’ ini, yang paling tahu secara langsung pergerakan dan aktivitas seluruh panitia. Kehadirannya di sekretariat telah dimulai ketika ruang Unit Kegiatan Sekolah (UKS) di Dinkes, dirombak menjadi ruang sekretariat PON. Pagi, siang dan sore, ia menyambangi sekretariat untuk memastikan semua aktivitas berjalan secara tuntas. Wakil Sekretaris dijabat oleh Nur Ilham Ahmad, SKM. Lelaki kelahiran Makassar ini, baru saja menikmati honeymoon (bulan madu) saat PON XVII berlangsung. Selama masa PON XVII, sang istri tercinta sering diajak bertandang ke sekret. Jika ada orang paling berbahagia di antara puluhan lelaki yang hilir mudik di sekret, maka pastilah orang itu Nur Ilham Ahmad, SKM. Ia tentu saja, bisa dimasukkan daftar orang paling bahagia di dunia, selama masa-masa indah post-honeymoon (pasca bulan muda). Oh, andaikan saja daftar itu, memang benar-benar ada!

Kegiatan PON XVII, tentu saja tak lengkap tanpa adanya sekret dan dana. Kesektariatan digawangi oleh Sinar Alif Mulyadi. Sekret merupakan basis utama kerja, pusat informasi, sekaligus sebagai ‘ruang nol centimeter’. Makna dari ‘ruang nol centimeter’ yakni segala hal ikhwal kegiatan besar PON XVII, pasti dimulai dari ruang tersebut, bahkan hingga masalah terkecil sekalipun. Langkah pertama dari ‘nol centimeter’ pada segala penugasan, pastilah dimulai dari ruang sekret. Sinar Alif Mulyadi yang kini merupakan staf pada bidang Yankes (Pelayanan Kesehatan), sebelumnya berkarir di Puskesmas Tanjung Laut. Ia termasuk tipe ‘pekerja keras’, karena urusan-urusan yang keras seperti mengangkat peralatan kantor seperti meja dan kursi ikut juga dilakoninya. Dalam pendistribusian alat-alat yang berkaitan dengan operasional petugas doping, ia juga ikut terlibat mengangkat refrigator. Apalagi barang yang lebih keras daripada refrigator, untuk seorang pekerja keras seperti dirinya? Urusan yang berkaitan dengan PON, dijalaninya bukan hanya di Bontang, tapi juga hingga ke Samarinda. Penyetoran berkas ID Card, pengambilan ID Card, membawa peralatan doping hingga mencari boneka maskot PON merupakan pekerjaan tambahan untuknya di Samarinda. Pencarian tiga boneka maskot dilakukan di beberapa tempat penjualan boneka di Samarinda, namun gagal didapatkan. Tak ada lagi tiga boneka berbentuk ikan pesut, burung enggang dan orang utan, yang dijual di Samarinda pasca selesainya PON. Rupanya boneka tersebut cukup laris manis selama masa pelaksanaan PON.

Khusus masalah dana, segala jenis pembiayaan maupun honor seluruh panitia ditangani oleh ibu r. Patmiarsih, yang bertindak sebagai bendahara. Petugas kesehatan yang membutuhkan bahan bakar hingga urusan apapun yang berkaitan dengan rupiah, harus sepengetahuannya. Manajemen ‘pembukuan satu pintu’ pada nota bahan bakar, menjadi salah satu bukti bahwa tak ada pembiayaan yang terjadi tanpa sepengetahuannya.

Khusus para atlet yang mampu masuk ke semifinal maupun final, ada seseorang yang punya urusan langsung dengan mereka. Bachtiar, S. Sos. M, Kes menjadi daftar teratas, sebagai orang terdepan yang menangani calon pemenang atau para pemenang. Para pecundang atau atlet yang kalah, tak bakal berurusan dengannya. Bachtiar, S. Sos. M, Kes berkedudukan sebagai Ketua Bidang Doping atau sub koordinator Bontang yang menangani penggunaan zat terlarang atau metode terlarang di kalangan atlet. Ditangannyalah terpegang tanggung-jawab pada “Program Monitoring Tahun 2008”. Program ini berkaitan dengan stimulan dan narkotik, yang dipergunakan di dalam dan di luar kompetisi. Kriteria keabsahan pencapaian prestasi para pemenang dan calon pemenang, salah satunya ditentukan oleh tak adanya penggunaan ‘Zat Terlarang’ atau ‘Metode Terlarang’. Kemenangan bisa dianulir, bila secara syah terbukti terbukti dalam penggunaan doping. Mengumpulkan urin atau air kencing para atlet yang bakal menjadi pemenang, menjadi urusan teratas baginya. Sosok yang harus bekerja dekat-dekat dengan WC ini, tentu paling mengakrabi semua jenis urin atlet yang berlaga di semifinal maupun final. Apakah bau pesing dari air najis itu tidak mengganggunya? Tentu saja tidak, karena itu merupakan pekerjaan dari seorang profesional.

Tenaga medis seperti dokter, termasuk unsur yang sangat menentukan kesehatan atlet. Kesehatan seluruh personil yang terlibat langsung dalam pertandingan, menjadi urusan urusan teratas para tenaga medis. Pihak medis, berkaitan langsung dengan Bidang Kesehatan Lapangan, Bidang Kesehatan Venues, Kesehatan Wisma, Medical Center dan Bidang Rujukan Medis. Ketua Sub Bidang Kesehatan Lapangan dipegang oleh dr. I Wayan Suparta. Bersama dr. Sofyan Hasdam Sp. S dan dr. Hindar Jaya Sp. OG, ia dikenal pula sebagai salah seorang tokoh di balik keberadaan dan pelaksanaan Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial) di Bontang. Tugas tim Kesehatan Lapangan diantaranya mengkoordinir pelayanan kesehatan atlet, official, tamu VIP/VVIP dan masyarakat penonton pertandingan maupun mengkoordinir pelayanan kesehatan atlet dan official di wisma/hotel/tempat penginapan.

Tim Kesehatan Venues dipimpin oleh dr. Andi Anwar Arsyad, sebagai Kasie Kesehatan Venues. Dirinyalah yang mengkoordinir para petugas jaga venues. Dalam “Pedoman Pelayanan Kesehatan PB PON XVII 2008 Kalimantan Timur”, disebutkan tentang sejumlah aspek pelayanan venues. Dalam pedoman tersebut dinyatakan, “Pelayanan Kesehatan venues dilakukan di Medical Room yang terletak di setiap venues pertandingan dan perkampungan atlet yang akan memberikan pelayanan P3K, kasus-kasus emergency bagi atlet, official, wasit dan panitia (mempunyai ID Card) yang memberikan bantuan.” Dr. Andi Anwar Arsyad secara langsung terlibat sebagai petugas jaga pada venue cabor Volly di Bontang Lestari. Pasca pertandingan pertama Volly, hasil kerja kerasnya mendapat pujian ‘empat bintang’ dari Panitia Besar PON XVII. Kesiapan tim kesehatan yang berada di bawah pimpinannya ditunjukkan dengan kesiapan penuh para personil, peralatan dan obat-obatan. Dalam tim kesehatan pada cabor volly, keberadaanya didampingi oleh dr. Arlita Eka Putri Vivin Puspitasari.

Dr. M. Thoufik Hidayat menjabat sebagai Kasie Medical Wisma dan dr. Wijayanto bertindak sebagai Ketua Medical Centre. Medical Wisma atau Pelayanan Kesehatan Wisma dimaksudkan untuk memberikan pelayan medis kepada atlet, official dan tamu yang menginap di tempat penginapan selama berlangsungnya PON. Pelayanan Kesehatan di wisma dilaksanakan di medical room, baik di wisma itu sendiri maupun di klinik PNS.

Pelayanan Kesehatan di Medical Center bertujuan memberikan pelayanan kesehatan tindak lanjut secara cepat dan tepat bagi atlet, official, wasit dan panitia (yang mempunyai ID Card) yang datang langsung maupun yang dirujuk dari Medical Room. Medical Center merupakan pusat rujukan pertama/pra rumah sakit dari Medical Room di venues dan atau di hotel/wisma yang memberikan pertolongan pertama menanggulangi penyakit/cedera. Medical Center memberikan pelayanan secara komprehensif dan dibuka selama pelaksanaan PON XVII dengan memberikan pelayanan apotek dan penyediaan alat kesehatan.

Dr. Nurul Fathoni, M. Kes, menjabat sebagai Ka. Sub. Bid. Kesehatan Rujukan dan dr. Retno Noegrahani, M. Kes menjabat sebagai Kasie Rujukan Medis. Pada bidang ini ditetapkan RSUD Bontang sebagai rumah sakit rujukan. Pelayanan di rumah sakit tersebut berupa perawatan tindak lanjut rawat inap dan operasi bagi atlit, official, wasit yang mempunyai tanda pengenal/ID Card dengan membawa surat rujukan dari Medical Room, Medical Center, wisma, hotel atau perkampungan atlet.

Dalam menunjang tugas tim medis/paramedis disediakan pula fasilitas ambulans. Khusus untuk pelaksanaan PON XVII ini, seluruh ambulans yang ada di puskesmas disatukan di kantor Dinkes Bontang. Dari tempat inilah, ambulans didistribusikan dan selalu ‘siap tanggap’ di Medical Wisma, Medical Room dan Medical Center. Agung Ardiyanto, S. Psi bertindak sebagai Ka.Sub.Bid. Ambulans, dengan pusat kerja di ruang sekret PON XVII. Seluruh potensi sopir yang bekerja di Puskesmas, RSUD, PMI, Dinkes Bontang, berada dalam arahannya. Lelaki berkaca mata yang pencinta mobil Volks Wagen dan hobbi mancing ini termasuk seorang yang sangat kreatif dalam memberikan jadwal tugas para sopir. Papan informasi jadwal tugas para sopir, dibuat dengan menggambar mobil ambulans secara karikatural. Dengan cara itu para sopir langsung dapat mengetahui waktu shift penugasan maupun wilayah kerjanya.

Dalam debutnya sebagai koordinator para sopir ambulans, ia melakukan juga tugas lain yang cukup menantang dan memicu hormon adrenalin. Kala itu terjadi insiden dalam cabor terbang layang, ketika salah satu pesawat dinyatakan ‘hilang’. Dengan mengendarai ambulans 118, ia bersama Upik (Taufik Hidayat) dan Om Gun (A. Fattah Guntur) langsung menjadi tim SAR (Search and Rescue) dadakan. Usaha mereka bertiga, sukses menemukan pesawat yang keluar jalur tersebut. Agung Ardiyanto, S. Psi dan driver andalan sekret A. Fattah Guntur plus Upik merupakan tiga personil Dinkes yang pertama menemukan pesawat terbang layang yang jatuh diantara rawa-rawa payau Sekendis. Pesawat naas itu dikemudikan atlet Kaltim Dwi Sasongko. Beruntung Agung menunjuk Om Gun sebagai driver, mengingat jalan yang tidak mungkin dilalui oleh ambulance 118 jenis KIA Travello. Kehandalan Om Gun sebagai sopir senior, berhasil melibas semua penghalang, sehingga pesawat tersebut dapat ditemukan. Tak kalah serunya, karena detik-detik penemuan itu diabadikan dalam video handphone nya.

Pada saat pelaksanaan PON, mayoritas ambulans Puskesmas, kurang terawat dengan baik, karena interior mobil yang dilapisi debu cukup tebal. Debu yang tebal juga menjadi petunjuk dasar bahwa semua mobil ambulans perlu perawatan intensif pada bagian interior. Pada saat menjemput tim kesehatan cabor Volli, yang pulang malam setelah bertugas di Bontang Lestari, terlihat betapa lusuhnya interior salah satu ambulans. Dr. Anwar menyapu debu tebal di kursi ambulans dengan tapak tangan kanannya. Di bawah temaram lampu interior ambulans, telapak tangannya terlihat hitam, karena ketebalan debu tersebut. Ambulans yang secara umum terlihat bersih dan peralatan yang terawat baik hanya pada ambulans 118. Inilah salah satu ambulans andalan yang selalu ‘siap tanggap darurat’ di depan sekret.

Ambulans 118 rupanya sangat spesial, karena dr. Hindar Jaya, Sp. OG secara langsung memberikan instruksi khusus mengenai pemakaiannya, bahkan juga kriteria utama yang harus dipenuhi oleh supirnya yang wajib berkriteria ‘senior’. Ke-spesial-an ambulans ini dibuktikan dalam pencarian pesawat terbang layang, yang sempat hilang dari jalur yang semestinya. Ambulans yang dikendarai secara bergantian oleh dua supir ‘senior’ itu, ternyata memang berhasil membuktikan kehandalannya di lapangan. Tak berlebihan, bila Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, dr.Hindar Jaya, Sp.OG memang memberi perhatian khusus pada Ambulans 118. Insting ‘mata elang’ dr.Hindar Jaya, Sp.OG, berhasil melihat sisi khusus yang hanya dipunyai ambulans 118. Sebuah sisi yang melebihi ambulans lainnya, yang selalu berdebu tebal pada bagian interiornya.

Masalah administrasi dan asuransi, ditangani oleh Jamila Suyuthi, SKM, sebagai Ka. Sub. Bidang Administrasi dan Asuransi. Pihak yang memperoleh tanggungan asuransi kesehatan yakni atlet, official, wasit, technical delegate, tamu undangan dan panitia pelaksana. Mereka yang sakit, mengalami kecelakaan dan sebab-sebab lain yang berhubungan dengan kesehatan, pastilah berkaitan dengan asuransi.

A. Rachman Ali menjabat sebagai Ka. Sub. Bid. Lingkungan Pencegahan Penyakit & Makan Minum. Tujuan dari bidang ini yakni mencegah terjadinya penyakit pada atlet, official, wasit dan semua unsur yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Tugas yang dilaksanakan diantaranya pelaksanaan fogging di lokasi hunian atlet dan lokasi venues. Fogging meruapakan usaha pengawasan dan pengendalian vektor atau pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat dan kecoa. Tujuan lain dari bidang ini yakni menciptakan lingkungan penyelenggaraan yang sehat dan bersih. Tugas yang diemban oleh A. Rachman Ali dan timnya ditunjang oleh petugas yang melaksanakan ‘pengawasan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit’. Ahmad Hale Haedar, menjabat sebagai ‘Kasie Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan penyakit’. Bidang ini berkaitan dengan pengawasan lingkungan dan makanan dan minuman. Pengawasan juga dilakukan pada lingkungan wisma, venues, perkampungan atlet dan hotel. Pelaksanaan tugas bidang ini pada bulan Mei, Juli dan Juli. Dalam kegiatan PON ditempatkan sebelas petugas Kesehatan Lingkungan, yang mengawasi 17 lokasi. Lokasi-lokasi tersebut ditempati seribu tiga ratus tiga puluh sembilan orang.

Pengawasan Gizi dan Menu dipimpin Hurriyani, SKM. Petugas gizi sebanyak empat belas orang ditempatkan di 17 lokasi. Petugas gizi menangani secara detail segala hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi atlet. Cara penyajian makanan, ketersediaan peralatan makanan, jadwal makan, maupun gizi yang terkandung pada makanan diawasi oleh petugas Pengawasan Gizi dan Menu. Petugas gizi dan menu yang secara langsung berinteraksi dengan atlet, setiap kali jadwal makan berlangsung. Dalam petugasan inilah, kemudian terjadilah salah satu ‘insiden kuliner’ berupa penolakan atlet DKI Jakarta terhadap makanan yang disajikan.

Stadion Bontang Lestari telah hening dan wisma atlet telah senyap. Hanya ada spanduk yang telah dicat hitam pada bagian maskot, yang masih terpasang di Wisma Atlet Loktuan. Hanya angin, hujan, embun yang bisa melapukkan spanduk usang itu, langsung dari tiang gantungannya. Para pecundang dan pemenang telah kembali ke daerah masing-masing. Ada atlet yang membawa kekesalan, kekalahan dan sisa-sisa kelelahan mental hingga hari ini. Memang selalu tak ada pesta, tepuk tangan dan teriakan histeria bagi para pecundang. Ada juga atlet yang terpampang bangga di media dalam pose para juara. Uang, bonus dan medali menyertai para pemenang. Di saat para olahragawan berpesta untuk menyambut kemenangan dan menampik kelelahan, petugas kesehatan justru sibuk untuk menjaga kesehatan para ‘biang pesta itu’.

Ketika pesta para olahragawan itu usai, para pekerja kesehatan kembali melakukan ritual harian untuk bekerja di kantor masing-masing. Mereka yang pernah berada di belakang dan di depan layar PON XVII, kembali melakukan aktivitas ‘bessai berinta’ pada tugas-tugas yang lain. “Semua pesta pasti akan usai!”, itulah ketentuan yang selalu terjadi. Akan tetapi hingga ‘upacara pesta penutupan’ PON dilaksanakan oleh Wapres Jusuf Kalla, sama sekali tak ada ruang, waktu dan tempat pesta untuk panitia kesehatan. Perahu kembali berlayar menuju pantai berbeda atau lautan aktivitas lainnya. Dr. Hindar Jaya, Sp. OG, sebagai nakhoda beserta para ‘anak buah kapal’ siap menunaikan serial pelayaran baru dengan bergabung dalam sequel ‘bessai berinta’ episode 2,3 dan seterusnya. Selama laut masih bergaram dan keringat tetap terasa asin, ‘bessai berinta’ tetap terjadi di jajaran Dinas Kesehatan Bontang.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Pawang hujan ternyata juga basah kuyup

Selama pelaksanaan PON XVII, ternyata ada juga usaha untuk memindahkan hujan dari lokasi venue ke lokasi lainnya. Usaha itu sama sekali tak manjur, karena hujan tetap saja turun, sekeras shower di kamar mandi. Kisah ini diceritakan Pak Agung (Agung Ardianto, S. Psi, Kasie Ambulans), berdasarkan apa yang dialami atlet Banten. Cerita itu dimulai ketika paket antaran makanan tiba di wisma atlet. Melihat hal itu, rasa lapar juga bergejolak di usus 12 jari pawang hujan. Kepada panitia ia mendesak untuk diberi jatah makan. “Mana jatah makan saya?” tanyanya. Belum sempat, permintaan dan pertanyaannya dipenuhi, atlet Banten menimpali, “Lho, di daerah saya pawang hujan

itu berpuasa. Bila ia berbuka, maka hujan pun turun!” Di saat PON XVII, baru saja pawang minta jatah sarapan, hujan langsung turun. Hujan pasti akan lebih deras bila ia berbuka puasa pagi itu. Memangnya ada puasa yang berbuka pagi hari dengan sarapan nasi kotak?

Kisah kedua tentang turunnya hujan selama PON XVII disinyalir akibat konflik internal sesama pawang hujan profesional dari Guntung versus Bontang Kuala. Pawang hujan dari Guntung, memindahkan awan ke arah Bontang Kuala. Pemindahan hujan dilakukan, karena di wilayah Guntung akan diadakan pesta adat oleh komunitas orang Kutai. Pawang Hujan di Bontang Kuala tak terima kiriman awan ke wilayahnya, karena akan diadakan pembukaan pesta laut pada 8 Juli 2008. Bontang Kuala harus terbebas dari hujan selama diadakannya pesta laut yang akan berlangsung selama sepekan. Sang pawang Bontang Kuala kemudian mengirim balik awan-awan itu ke lokasi semula, akibatnya hujan pun turun di Guntung. Pawang Guntung tak terima, lalu mengirim kembali awan itu ke Bontang Kuala.

Perseteruan itu terjadi tidak terlalu lama, lalu keduanya membuat ‘kesepakatan telepatik’ agar sebaiknya awan dikirim ke wilayah lain yang tak berkaitan dengan pesta adat Guntung dan pesta laut Bontang Kuala. Lokasi yang dipilih yakni daerah venue terbang layang dan sekitarnya. Hujan yang turun di venue terbang layang, membuat lokasi tersebut becek dan berlumpur. Pertandingan kemudian dipindahkan ke Santan-Marangkayu, suatu daerah yang masih bebas dari limpahan awan kiriman dua pawang hujan tersebut. Sampai pertandingan usai dan dilakukan upacara pemberian medali, lokasi venue terbang layang memang masih menyisakan ‘kisah-kisah basah’ dari dua pawang hujan tersebut. Di venue terbang layang, memang tanah masih berlumpur dan bisa menenggelamkan sepatu kantoran ala pentopel dan sepatu berhak tinggi. Seribu titik lumpur dapat bergerombol di telapak sepatu dengan mudah di tanah becek tersebut. Gadis-gadis cantik berpakaian adat Dayak dan Bontang, yang bertindak sebagai mc (master of ceremony) dan pembawa medali, memilih untuk tak bersepatu dan beralas kaki apapun. Kaki-kaki halus itu menapak lantai lapangan terbang itu dan mondar-mandir membawa nampan medali. Hanya sekitar radius 3-5 meter dari lokasi pemberian, tanah becek menanti untuk melumpuri tapak-tapak kaki gadis–gadis berpakaian adat itu. Kaki-kaki halus itu akhirnya terkena juga tanah becek, yang harus dilaluinya sebelum masuk ke mobil jemputan.

Pada momentum pemberian medali itu, terlihat hadir Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hindar Jaya, Sp.OG beserta Om Gun ( Abdul Fatah Guntur). Beberapa saat kemudian menyusul juga Emil, seorang lagi petugas sekret yang tak teridentifikasi, Mbak Zen (Zennidar Aulia Nashira) dan Pak Agung. Di deretan kursi tim medis, nampak dr. M. Firmansyah. Ambulans Askes terparkir beberapa meter dari lokasi pemberian medali. Didalamnya terlihat petugas medis dan anggota PMI. Pak Hasbi, sopir ambulans dari RSUD berbaring santai di dalam ambulans. Saat pemberian medali, suasana cukup gerah dan matahari bersinar terik. Tak terlihat barisan awan gelap di atas lapangan terbang layang. Pada hari itu juga, dua pawang telah menghentikan pengiriman hujan di sekitar venue . Itulah hari paling cerah dan terik selama diadakannya pertandingan cabor terbang layang.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Perburuan makanan basi 02.00 dini hari

Sekitar pukul 23.00 WITA pintu mushalla Dinkes Bontang digedor Emil, seorang petugas sekret yang berada didalamnya, sontak kaget, “Ada apa?” tanyanya. “Atlet DKI di Wisma Atlet Loktuan menolak makanan yang telah disajikan dalam bentuk prasmanan. Makanan dianggap tak layak disantap!” ujarnya. “Jadi kita ngambil sampel makanan itu? Emil menjawab, “Kita temui dulu Bu Lina dan Mbak Upik, untuk memastikan apa yang harus dilakukan!”

Ketukan di pintu mushalla di latar belakangi pada suatu kabar buruk kuliner di Wisma Atlet, Loktuan. Pada 11 Juli 2008, pukul 19.00 WITA, pihak offisial DKI Jakarta melaporkan pada Tim Gizi tentang lauk ikan yang sudah busuk. Tim Gizi yang dipimpin Hurriani, SKM (Kasie Pengawasan Gizi dan Menu) melakukan beberapa tingkatan tahapan sebagai respon terhadap laporan ofisial DKI Jakarta. Tahapan itu yakni mencicipi makanan tersebut, mengambil sampel, dan melaporkan pada petugas sanitasi. Bu Lina dan Mbak Upi yang merupakan petugas Pengawasan Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Penyakit, kemudian melaporkannya ke sekret.

Malam itu di sekret, sudah ada Bu Lina dan Mbak Upik yang membahas masalah di Wisma Loktuan bersama Mas Alif. Bu Lina dan Mbak Upik beberapa saat kemudian Emil, seorang agen sekret, Bu Lina dan Mbak Upik meluncur ke arah komples PKT menuju sebuah rumah makan. Di depan rumah makan itu, mobil di parkir. Seorang satpam yang agak curiga dengan keberadaan empat orang itu, langsung menghampiri dengan menyodorkan beberapa pertanyaan. Bu Lina, Mbak Upik dan Emil langsung merespon kecurigaan satpam tersebut, dengan menjelaskan keberadaan mereka di tempat itu. Satpam PKT yang tadi curiga itu, malah ikut terlibat pula bersama ‘Tim Sekret XVII’ mencari sumber pangan yang diduga merupakan bahan lauk dari prasmanan tersebut.

Pengambilan sampel itu memakan waktu sekitar 2 jam. Dalam durasi itu, tim harus menunggu pihak yang bertanggung-jawab sekitar satu jam dalam penyediaan makanan tersebut. Pada mulanya orang tersebut tersebut enggan datang, namun setelah diberi pengertian melalui saluran HP, ia pun datang. Sebelumnya, ia hanya meminta security rumah makan yang berjaga disana untuk membuka freezer. Isi freezer dibongkar untuk mengambil sampel yang diinginkan berupa ikan. Pembongkaran isi freezer oleh satpam, tak mendapatkan sampel yang diinginkan. Setelah datang pemilik rumah makan tersebut, maka acara bongkar-bongkar mendapatkan hasil.

Dari kompleks PKT, tim bergerak ke arah jalan KS. Tubun. Di sana tim menuju sebuah rumah seorang pemilik catering, yang juga menjadi penyedia makanan untuk atlet. Disini, sang pengusaha catering langsung meminta tim untuk mengambil dan melihat keseluruhan isi freezer. Sang pengusaha catering tersebut merupakan seorang ibu sangat ramah dan cantik, malah menyiapkan juga minuman hangat dan kue. Sekitar setengah jam lebih, sang ibu yang sangat kooperatif itu menjelaskan kronologis datangnya daging ayam sebanyak tiga karung. Tiga karung ayam tersebut, dibawa dari Samarinda tanpa menggunakan box berpendingin. Tentu saja, lapisan es pada ayam-ayam kemudian mencair. Daging ayam telah mengadakan perjalanan cukup jauh, dengan kondisi yang memenuhi syarat penyimpanan. Ayam itu berada satu tempat dengan minyak goreng. Ketika daging ayam itu disimpan di freezer, es pada ayam tersebut telah mebeku. Ia tak menggunakan daging-daging ayam tersebut sebagai lauk, karena ia tak percaya dengan kualitasnya.

Pada saat mengadakan wawancara tersebut, datang pula Mas Alif dengan Adel. Keduanya tentu saja ikut pula menikmati sajian dini hari itu. Daftar pertanyaan makin bertambah dengan adanya Mas Alif, karena ada beberapa yang harus dikonfirmasikan berkaitan dengan alur transportasi daging ayam, cara penyimpanan dan kondisi daging yang disajikan pada atlet. Daging ayam tersebut berasal dari Bogor kemudian didistribusikan ke Balikpapan, Samarinda maupun ke Bontang. Cukup jauh jarak tempuh perjalanan daging ayam tersebut, hingga akhirnya batal mengisi perut para atlet PON XVII di Bontang.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Pimpinan tanpa ‘remote control’

Seringkali pimpinan mengendalikan bawahannya dengan ‘remote control’ seperti mengeluarkan perintah dari telepon genggam, HT (Handy Talky) atau juga melalui ‘perintah berjenjang’ (menginstruksikan kepada seseorang untuk menyampaikan sebuah intruksi). Dalam ‘perintah berjenjang’, terjadi ‘instruksi kwadrat’ yakni isi perintah telah berlipat dua, karena ada orang kedua yang turut serta memberikan ‘instruksi ganda’. Instruksi semacam ini biasanya, sering tak direspon oleh bawahan, karena instruksi menjadi bias dan menjadi suatu ‘kalimat tidak langsung’. Pimpinan bisa disalahpahami semua instruksinya, bila kewenangannya tersampaikan secara ‘remote control’. Pimpinan yang baik seharusnya bisa langsung mendatangi bawahannya, karena instruksi langsung tersampaiakn secara mendetail hingga titik dan koma. Kepemimpinan yang buruk terjadi, bila pemimpin lebih memilih cara yang hiperbossy dan memerintah bawahan secara ‘remote control’. Hiperbossy yakni seorang pimpinan telah melewati batas-batas kenormalan sebagai pemimpin, karena instruksinya telah terwakilkan kepada seseorang yang seolah-olah menjadi ‘pimpinan bayangan’. Pimpinan yang bertabiat hiperbossy biasanya menjalankan instruksi via ‘remote control’ secara rutin dan berkala.

Selama masa pelaksanaan PON XVII, ‘Kosong Satu Dinkes’ atau pimpinan tertinggi Dinas Kesehatan Bontang, pasti selalu ada di sekret. ‘Kosong Satu Dinkes’ menyaksikan secara langsung apa yang seharusnya telah dan sedang dilaksanakan. Tiap malam, dr. Hindar Jaya, Sp. OG pasti berada di sekret memberikan instruksi secara langsung dari tangan pertama. Cara itu sangat efektif dan efisien dalam mengatasi berbagai kerumitan dan kesulitan kerja. Tak ada instruksi yang bias atau ‘pesan yang terpecah’, karena semuanya disampaikan dengan pola ‘kalimat langsung’ dari ‘Kosong Satu Dinkes’. Kehadiran pimpinan di ruang yang sama dan minum kopi dari merek yang serupa, bisa mencairkan semua masalah saat itu juga. Tak ada masalah, yang menimbulkan masalah baru, bila pimpinan selalu ada untuk mengorek solusi yang masih tertimbun. Ketika PON XVII usai, maka selesai pula semua urusan tanpa ada masalah yang tertinggal.

September 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.